Senin, 21 November 2016

Hargai dan Menghargai

Setiap langkah hidup pastilah tidak semulus dan selancar yang diharapkan. Meskipun demikian kita diharapkan selalu sabar, tawakal, dan selalu berikhtiar untuk mengupayakan agar apa yang di cinta dan citakan dapat tercapai dengan baik.
Seringkali ketika kita sudah berupaya sebaik mungkin, bekerja semaksimal mungkin, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya; namun terkadang ada saja yang memandang bahwa apa yang dilakukan salah, kurang, bahkan tidak baik.
Sebagai seorang yang berusaha berbuat baik, terkadang kita tidak pernah membicarakan aib orang lain. terkadang justru aib kitalah yang diungkit-ungkit oleh orang lain.
Begitulah hidup.
Jika saya selalu salah, apakah anda selalu benar ?

Senin, 31 Oktober 2016

Akhir Bulan Oktober: Suasana Panas Di Komplek

Semilir angin sawah menerpa wajah kami sore itu, tatkala kami bertiga duduk santai sambil menikmati sunset di pinggir sawah, samping gubuk kami. Sesekali nyruput teh anget dan pisang goreng anget suasana seperti ini yang mendekatkan ikatan kami.
Menjelang matahari redup, dari kejauhan tampak bergundi baru plat merah berwarna merah melintas....nampak biasa saja karena di komplek kami memang hilir mudik orang dengan kendaraan. Justru yang mengherankan adalah ketika yang membawanya adalah tetangga kami yang status tempat tinggalnya masih kontraktor.
Sekalipun tidak ada tendensi iri pada diri saya, tapi fenomena seperti ini kerap kali muncul dipemukiman padat penduduk (perumahan.red) dimana persaingan kepemilikan menjadi prioritas. Alih-alih karena kebutuhan (dan itu pasti), namun hal-hal seprti inilah yang kerap menjadikan hidup diperumahan menjadi tidak nyaman. Punya ini, ingin itu dan sebagainya.
Tapi ya sudahlah...rejeki di tangan sang Maha Kaya, jika memang rejekinya pasti tidak akan kemana asal kita mau berupaya, berusaha, dan berdoa.
Yang pasti, jangan panas hati, kuping, mata jika tetangga punya barang baru, tunggangan tidak hanya satu, dan semoga bisa mengangsurnya denagn lancar. sekian.

Harus Mikir Dulu Untuk Buat Status di Media Sosial

Kealaian saya berkurang seiring bertambahnya usia, hehe.... Hal ini saya lakukan semata-mata karena ada media sosial lain, haha sama saja ya.
Bukan begitu maksudnya, di FB saya jarang sekali mengupdate status mungkin boleh dikata sebulan sekali baru memperbaharui status; dan itupun rata-rata sekedar saling mengingatkan tentang hal-hal yang positif. Beberapa waktu lalu, saya mengulas tentang bagaimana menutupi aib, kesalahan, dan keburukan orang lain. Dengan mengutip kata bijak seorang pakar TI bahwa
"Menurut pak XXX, sebuah sistem di komputer bisa jadi ada celah kelemahannya; dari celah ini kemudian dicari dan berusaha untuk diperbaikinya. Maka jika kita menemukan kesalahan oang lain maka mari kita tutupi, diperbaiki bukan malah di sebarluaskan di media sosial"
Menurut saya kalimat itu tidak ada tendensi merendahkan, melemahkan, bahkan fitnah sedikitpun; bahkan saya berupaya mengangkat pak XXX itu sebagai bahan rujukan dari status saya.
Masalahnya adalah, tiba-tiba saja pak XXX yang mungkin hidup kurang tenang ditengah ketercukupan finansial dan nama besarnya tersebut merasa namanya bisa tercoreng karena namanya saya rujuk, sehingga langsung memberitahu saya, bahwa saya bisa kena pasal pencemaran nama baik.

Bak gledekan berjalan disiang hari ditengah anda tidur pulas, ini maksudnya apa ya kok tiba-tiba saya mau dikenakan pasal pencemaran nama baik.....wah, memang akhirnya saya sadari benar bahwa status bisa berakibat tidak baik jika orang yang membacanya tidak paham arti status itu.
Fb adalah milik publik, siapapun bebas menuliskan apapun, tapi jika apa-apa harus berfikir untuk menulis status dengan alasan takut kena pencemaran nama baik....yo wes gak usah nulis status. sekian.

Senin, 24 Oktober 2016

Pungli: Dilema Budaya

Alkisah pagi ini saya mempersiapkan diri untuk mengantar buah hati ke sekolah; alih-alih menjadi warga negara yang taat hukum terutama lalu lintas semua kelengkapan dan administrasi perjalanan saya cek dan siapkan, mulai dari kantong celana jangan sampai kosong, kantong baju jangan sampai bolong, dan sim serta stnk jangan sampai ketinggalan di atas galon.
Singkat cerita, jam 08.00 saya melaju ke unit pelayanan SIM karena bulan depan SIM saya merayakan ulang tahunnya sehingga harus diperbaharui. Alur kepengurusan yang sudah saya pahami dengan baik dan benar membawa saya ke tes kesehatan. Dipandu oleh 2 dokter muda yang cantik tapi cukup gendut itu diperiksa mata, ketinggian, massa tubuh, dan tensi. Disela pemeriksanaan si embak tadi bertanya kerja dimana, sebagai apa, dan apa yang bisa di bantu. Sekilas pertanyaan itu sederhana, tapi kata "apa yang bisa dibantu" membuat ambigu karena saat itu dirinya sudah membantu pemeriksaan kesehatan...apakah ini "kata rahasia" untuk sebuah jalur tikus agar pengurusan SIM lebih cepat melalui jasa calo....entahlah... Nah di unit ini biaya administrasi 40 ribu, tanpa kuitansi. Dan saya bayar tanpa masalah...alhamdulillah punya duit.
Lanjut ke unit SIMnya, begitu parkit pak sekuriti sepeda motor (juru parkir) langsung mengarahkan ke pos....dengan langkah pasti dan digagah-gagahkan saya hampiri 3 pak polisi yang sedang piket... "Selamat siang, adaya yang bisa dibantu ?" (pertanyaan serupa dengan embak tadi). "Saya mau perpanjang SIM pak pol", "Oh ya, boleh lihat berkasnya".....beberapa saat pak polisi membolak-balik berkas tanpa komentar. "Silakan ke bagian pendaftaran.." saya jawab "Nggih pak, matur nuwun".
Sekali lagi tidak ada masalah di segmen ini, tapi tampak penggirangan ke pos dan diperiksa oleh pak polisi ini menunjukkan kehati-hatian unit SIM...siapa tahu Pak Gubernur yang menyamar dan sidak langsung...hahaha.
Ketika mendaftar diberikan nomor antrian seperti tanda peserta seminar. Ketika foto ada yang membuat 2 sim sekaligus A dan C dan yang emejing, anak itu tidak menggunakan tanda antrian....what's going on ?? apakah anak ini pakai jalur tikus....entahlah...
Singkat cerita pelayanan cepat dan mudah saya temui kali ini, berbeda dengan bulan ketiga waktu membuat sim baru lebih belibet dan lamaaa.
Kinerja seperti ini yang sejatinya harus dilakukan pelayanan publik sejak dulu. Salut untuk pak polisi SIM dan jajarannya semoga tetap bertahan seperti itu.
Eniwai, apakah ada pungli ?? Tidak ada, biaya SIM sebesar 75 ribu (dengan bukti pembayaran) langsung dibayarkan di kasir Bank, menuju pembayaran, foto SIM, dan pengambilan SIM diberikan  kupon PMI sebesar 5ribu (seperti jaman sd sampai sma juga spt itu).
Jadi untuk perpanjangan sim habis 75 ribu + 40 ribu + 5ribu = 120 ribu.

Posting ini tidak bermaksud apa-apa, tidak melaporkan, juga tidak mencium indikasi pungli. Jika pun ada yang melalui jalur tikus, biarkan oknum tsb yang tau...saya tidak perlu tahu karena saya ingin menjadi warga negara yang berbudaya baik, santun, dan taat aturan.
Selamat untuk pelayanan sim kali ini...saya puas dan berani kasih jempol

Negara Drama: Antara Popularitas, Penistaan, dan Realita

Masyarakat awam setiap hari dijejali berita-berita di TV, yang saya sendiri tidak mengerti kebenaran dan keabsahaannya. Namun jika menilik dari sebuah berita serupa di saluran youtube.com berita itu kadang menjadi benar atau setidaknya dianggap benar. Jadi saat ini youtube digunakan sebagai pembenaran berita di TV (hemm...bisa jadi TV bsk tidak laku karena lebih valid berita di youtube, entahlah).
Eniway, kasus lama yang bersemi kembali milik pak super mario teguh sejatinya tidak penting untuk dibahas, bahkan sangat tidak perlu diberitakan. Mengapa ?. Karena pak super ini sudah populer baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Membicarakan masa lalunya apa lagi, jika memang pak super ini bersalah, berselingkuh, tidak mengakui si kis sebagai anak, dan kdrt...lalu apa pedulinya? toh itu urusan keluarganya sendiri. Anda mencaci maki, anda berang seperti berang-berang mau kawin, bahkan anda pendukung tulen pak super...njuk apa untungnya ?
Ketika anda caci maki, pak super asik mesra dengan ibu lina yang super setia itu, anda mendukung sampai semaput, pak super sedang hepi-hepi di luar negeri dengan kapal pesiar mewahnya.
Mencari popularitas, ah tentu saja tidak karena pak super sudah populer; mencari rating, ahh buat apa lagi rating nya sudah diatas level bebek angsa....
Kesimpulannya: jangan lagi bahas pak super, mas dedi korbuser fokus saja di acaranya, jika ingin mengangat si kis jadi anak atau ibunya jadi terangkat, jadikan artis. selesai urusannya. :D

Muncul lagi bang ahok dengan gaya kepemimpinannya dan bicaranya. Sebagai muslim saya turut tersinggung; tapi saya ini yang rakjat jelata bisa apa ? Pak ahok punya beragam cara untuk berkilah, punya beragam serdadu untuk balik menyerang....
Meski sejatinya saya ini memuji pak ahok dengan ketegasannya, tapi sefanatik-fanatiknya saya tidak akan pilih pak ahok. ya saya tidak akan pilih pak ahok. titik.:D (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)

Barulah muncul sang pangeran yang saya turut kagum akan kecemerlangannya, pak Agus. Sangat disayangkan mundur dari TNI padahal kenaikan pangkatnya melebihi rekan selating di AKMIL. Tapi ya itu, karena negera drama apapun bisa terjadi. Sefanatik2nya saya: saya tidak akan pilih pak Agus. titik tidak koma-koma. :D  (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)

Negara drama penuh intrik dan strategi, yang kuat berkuasa, yang kalah bersuara. Yang jelas jangan memaki ulama bisa kualat. Salam, Laos, KUnyit...

Selasa, 11 Oktober 2016

Cinta dan Mencintai

Jika kita menyukai sesuatu entah itu orang lain atau benda tertentu; secara tidak sadar akan terkenang terus dalam ingatan, tak luput dalam bayangan, dan tak lepas dari impian. Namun kesemua bisa menjadi nyata jika kita mau dan mampu mewujudkan memilikinya meski dengan upaya yang tidak mudah.
Untuk itu, ikhitar dan doa terkadang harus kita genjot frekuensinya agar memperoleh petunjuk, jalan, dan kemampuan yang terkadang diluar kemampuan kita untuk memfikirkannya.
So, mari kita wujudkan mimpi kita agar tercapai. Apa keinginanmu saat ini ?

Selasa, 28 April 2015

Menyerah Untuk Bahagia atau Ikhlas Untuk Merana

Judul yang mungkin membuat orang bertanya, ini admin lagi galau, lagi seneng, atau lagi sedih ? Haa.... pengen nulis aja sih sebenarnya karena kehidupan yang semakin sulit ini menuntut untuk selalu berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Jika tidak mau berpikir yah tidur aja atau jadi seorang boss (boss juga berpikir kali yah...).

Ok sob, maksud judul di atas sebenarnya pengen menggambarkan betapa seseorang dengan kehidupan yang serba pas-pasan ini mengalami dilematis yang luar biasa. Punya uang sedikit sudah membuat hati seneng, tenang, dan bahagia, tapi ya bahagianya juga cuma sedikit karena uang tadi untuk membayar ini itu, melunasi hutang itu dan ini. So...jika sudah menyerah akan keadaan berarti seseorang menyerah untuk bahagia. Sebab kebahagiaan itu dicari bukan datang dengan sendirinya.
Bagi orang dari GOLEKLEMAH makan tahu-tempe adalah makanan setiap hari, tambah kecap merupakan nikmat tersebdiri, makan dengan sambel bawang merupakan anugerah tersendiri, dan menikmati sayur kangkung selalu disyukuri. Lalu dimana kebahagiaan itu ? Kebahagiaan lahir karena hati yang puas, hati yang tenang, dan hati yang bersyukur.
lalu....menyerah untuk bahagia artinya menerima kenyataan yang ada....

Iklas untuk merana artinya apapun yang terjadi ya terjadilah karena itu semua memang kehendak yang punya hidup, jalan yang harus ditempuh, dan takdir yang sudah berlaku. Permasalahannya siapa yang mau merana ? tentu tidak ada !
Yang ada berusaha untuk bahagia. Nah, upaya inilah yang kemudian dapat menjebak "sebagian" dari kita menjadi merana. Sudah kerja enak, gaji lumayan, masih belum puas akan hasil yang dicapai tersebut, sehingga kehidupannya cenderung merana, merasa kurang, dan akhirnya mencari pelampiasan. Nah, jika sudah begitu siapa yang salah?
Tidak ada yang salah, yang bermasalah adalah pilihan anda sendiri: Memilih Menyerah untuk Bahagia dengan bersyukur, atau Ikhlas untuk Merana dengan menyesali apa yang ada.

Nb. perlu mikir abot untuk memahami tulisan di atas. Hehe....Salam Kupat Tahu