Jumat, 11 November 2011

Budaya Mencontek, Jelek-kah ?


Sistem pendidikan di Indonesia yang terbilang masih "labil" ini terus berupaya mencari jati diri dan mencari pola tentang sistem penilaian dan standarisasi mutu pendidikan yang harapannya dianggap bermutu dan berkeunggulan. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah melalui Kemendiknas dalam rangka menggapai mimpi ini, yang tujuannya adalah mendidik anak bangsa ini dari ketertinggalan, kebodohan, dan gaptek.
Upaya yang dilakukan antara lain dengan memberlakukan kurikulum yang berubah dari periode ke periode, sehingga seolah kebijakan dan kurikulum juga mengikuti pak menteri yang menduduki jabatan sebagai menteri. Lantas bagaimanakah hasil pendidikan di Indonesia ?


Tentu saja sobat blogger sudah memahaminya dan mengetahui secara pasti bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, yaitu "sangat memuaskan", ya, itulah kesimpulan yang diambil oleh seorang kepala sekolah setelah mengumumkan kelulusan peserta didiknya di satuan pendidikan yang di komandoinya. Kata memuaskan disini hanya tersirat kata "lulus" dari UN, bukan lulus pendidikan karena sejatinya pendidikan adalah seumur hidup, sepanjang hayat masih di kandung badan....
Namun apakah hasil yang diperoleh tersebut sudah mencerminkan hasil pendidikan yang sebenarnya ? Tentu jawaban ini tidak dapat digeneralisasikan secara umum mengingat banyak faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Namun jika dilihat dari sisi Kognitifnya jika siswa memperoleh nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka dikatakan lulus dari pendidikannya, sementara unsur dan faktor lain tidak turut menjadi penentu, lagi-lagi pemerintah melakukan terobosan luar biasa; untuk tahun pelajaran 2010/2011 kelulusan ditentukan oleh pihak sekolah dengan perbandingan nilai UN 60% dan nilai sekolah 40%. Tak pelak ini melegakan berbagai pihak, baik siswa, sekolah, maupun orang tua sehingga berbagai upaya dilakukan pihak sekolah dengan mendongkrak nilai raport semester ganjil, mengganti rapot dengan rapot baru dengan dalih peremajaan dan sebagainya. Inilah upaya nyata yang dilakukan elemen masyarakat guna mensikapi sebuah kebijaksanaan pemerintah.

Lain lagi dengan siswa, karena dituntut harus lulus memenuhi KKM maka mereka secara kreatif dan aktif melakukan tukar jawaban UN, dengan dalik kesetiakawanan. Alhasil lirik-melirih, bisik-bisik selama UN berlangsung berjalan secara wajar...Bahkan sms pun berseliweran tak tentu arah menebarkan kabar Jawaban UN. Permasalahannya adalah:
Apakah Mencontek itu Selalu Buruk ???
Saya butuh opini dari sobat semua, yuk kita berdiskusi, dengan komentar di kolom komentar....

2 komentar:

  1. assalamu'alaikum... begini menurut saya seorang pendidik harus menyesuaikan dengan bakat dan minat mereka.... kebanyakan seorang pendidik menganggap bahwa yang mendapat nilai 100 dalam matematika itu pandai.... dan yang lain..kurang.... sehingga mereka yang kurang tidak diperhatikan sehingga malas belajar....mengakibatkan merreka menyontek saat ujian.... seorang anak yang suka berkelahi misalnya... harus disalurkan... itu adalah bakat mereka ke ekstrakulikuler pencaksilat atau tekondo.... begitu juga dengan anak yang suka mengambar bahkan ketika guru menjelaskan didepan kelas.... justru ia mengambar guru.... yang sedang mengajar... ia harus disalurkan... sesuai bakat dan minat mereka... mungkin suatu saat nanti bisa jadijuara dunia.... ketika anak anak sesuai dengan bakat mereka ia senang, ia gembira dalam melakukannya... itu kuncinya setelah saya menonton film I'm not stupid too (saya tidak bodoh)... anak-anak sekarang sulit/susah disuruh belajar tidak seperti jaman dahulu... sekarang dan yang akan datang... anak-anak kita... itu berbedda beda... cara belajarnya oleh karena itu seorang pendidik harus menyesuaikan dengan bakat dan minat mereka supaya seorang pendidik dapat berkomunikasi dengan mereka... itu yang pertama... seorang pendidik diindonesia suka sekali mencari-cari kelemahan peserta bukan kelebihan mereka... sehingga sering disinsir... karena nilainya jelek dalam matematika... kapan anda dipuji seseorang...? kapan anda memuji seseorang? sudah lama bukan... itu sebuah cuplikan dari film I'm not syupid too, karena setiap orang membutuhkannya.... saya sudah bosan dimarahi... menurut orang tua mendidik adalah memerahi... itu adalah salah... kita tinjau balik... dulu ketika kita masih bayi banyak orang yang tersenyum untuk... kita... semuanya mendukung...orang tua, kakak adik... dan semua... menginjak 5 tahun banyak yang mendukung untuk bisa berjalan... tp setelah menginjak dewasa yang ada hanya dimarahi,dan tidak ada yang mendudukung...setiap hari hanya... minta uang, janrang berkomunikiasi dengan orang tua... ya bapak pulang malam.. ibu sibuk sendiri... dengan... aktivitasnya... akibatnya kenakalan remaja... jika orang tua mengajar kekerasan maka anak akan menjadi keras... semua yang ada diorang tua itu yang ditiru anak-anak....ketahuilah bakat minat mereka.. itu kuncinya.... terimakasih sedikit dari saya susilo edy purnomo...

    BalasHapus
  2. Sebagai seorang yang masih merasa awam dalam dunia Pendidikan dan juga masih belajar dalam dunia pengajaran, yang saya rasakan menjadi guru itu tidak mudah. Tugas dari seorang guru bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Mendidik dalam artian adalah mendidik dan membentuk karakter peserta didik yang tentu saja hal itu tidak mudah. Bayangkan saja, guru menjadi orang tua dari peserta didik hanya pada saat di sekolah yang idealnya 7 jam-an. Artinya dalam sehari guru mendidik peserta didik dalam waktu 30%, sedangkan 70% nya pserta didik lebih banyak berada di lingkungan. Dari 30% sehari ini nama guru dipertaruhkan, misalnya saja peserta didiknya tawuran atau tidak lulus, maka yang dipersalahkan dalam masyarakat adalah gurunya. Guru merupakan teladan bagi peserta didiknya. Sering saya melihat bapak atau ibu transfer yang notabene nya sudah menjadi guru, pada saat ujian mereka juga mencontek. Bahkan pernah diliput dalam suatu berita di sebuah televisi swasta tes ujian CPNS banyak calon-calon guru (bahkan banyak yang sudah menjadi guru) saling contek mencontek. Ibarat ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bagaimana peserta didiknya tidak berbudaya contek mencontek jika guru-guru mereka juga memiliki budaya tersebut. Jadi menurut saya, budayakan terlebih dahulu dalam lingkungan guru, baru setelah itu guru mencontohkan kepada peserta didiknya. Terima kasih.

    BalasHapus

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Sobat... ^_^