Membuka dan scrol kembali semua chat kita adalah kegiatan yang masih sering ku lakukan, kadang tersenyum sendiri mengingat hangatnya pembicaraan kita, intens-nya chat kita tanpa jeda sedikitpun. Bahkan kamu sering bercerita keseharian kegiatanmu meski tanpa aku minta; yang lebih menenangkanku saat kamu tiba-tiba mengirim foto kegiatanmu, aktivitasmu, dan sekedar pamer kerudung baru. Seru dan sangat menenangkan bahwa kamu dan aku ada untuk kita. Itu dulu....
Sekarang ?
Aku tak pernah menghapus namamu dari ponselku
Diantara kontak yang masih dapat ku hubungi
Meski nomor itu tak pernah lagi menuju kemanapun lagi
Kadang aku berhenti lama saat membuat ruang chat itu
Manatap pesan yang rasanya tidak akan pernah dijawab lagi
Aku tak lagi mencarinya
Tak juga berani untuk menghapusnya, karena kehilangan semuanya adalah sakit yang paling jujur
Ada hal kecil yang kita simpan, entah dimana posisinya saat ini
Jujur aku ingin pernah menghapus, tapi seolah ada yang menahan
Bukan karena berharap ingin kamu dapat kembali
Melainkan takut aku akhirnya tidak punya apa-apa lagi darimu
Hingga akhirnya kubiarkan kontak itu terlukis namamu
Kontak yang kadang nampak profilnya kadang tidak
Aku sadar, mungkin suatu saat aku akan membiarkan tanpa menyentuh sedikitpun kontakmu
Hingga saatnya benar-benar merelakan untuk menghapus semua tentangmu
Hingga saatnya melihat foto yang kamu kirim tak lagi menyentuh hatiku
Hingga tak lagi membawa kesan buatku....
Semua hanya masalah waktu.... karena sisa rindu ini hanya ada di kontakmu yang takkan ku hapus.
Eko Setyadi Blog
Berbagi dan Berdiskusi...
Minggu, 19 April 2026
Sisa Rindu Itu (Hanya) Kontak Yang Tak Dihapus
Rabu, 15 April 2026
Kamu (Bukan) Lagi Rumah Untuk Kembali
"Are you oke ?" pertanyaan bodoh dari untuk orang yang telah menyakiti hati. Sudah jelas jika apa yang dilakukan dan diucapkan itu sangat mengganggu jiwa dan raga masih tega bertanya seperti itu.
Teh hangat siang ini membawa sebuah penelusuran kenangan masa itu yang barangkali tetap menggetarkan jemari untuk menuliskannya. seolah setiap huruf adalah serpihan hati yang pecah. Aku pernah memperjuangkanmu dengan segala tenaga, menaruh harapan pada janji-janji yang kau bisikkan, namun akhirnya kau memilih pergi, bukan karena lelah, melainkan karena ada orang lain yang kau anggap lebih layak. Wajar memang, tapi asal kamu tahu bahwa setiap kata yang kau kirim lewat chat, setiap kalimat yang kau tinggalkan, terasa seperti pisau yang mengiris perlahan, meninggalkan jejak perih yang tak kunjung sembuh. Jujur aku pernah berharap kau hancur, agar semesta tahu betapa dalam luka yang kau tinggalkan. Namun ironisnya, di sana kau tampak baik-baik saja, berjalan dengan senyum yang dulu pernah aku perjuangkan. Sementara aku .... tertinggal di ruang sunyi, menatap reruntuhan hati yang perlahan kau patahkan.
Pulih dari rasa sakit hati bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan proses yang perlahan menumbuhkan kembali keberanian untuk hidup. Luka itu memang pernah mengiris dalam, namun setiap luka juga membawa ruang untuk sembuh; seperti kata-katamu "siapkan ruang kecewa". Awalnya, ada keheningan yang terasa berat, seolah dunia berhenti di titik kehilangan. Tetapi perlahan, keheningan itu bisa menjadi ruang refleksi tempatku belajar menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan bertahan.
Sembuh berarti memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti menggenggam masa lalu yang menyakitkan. Biarkan kenangan itu menjadi bagian dari cerita, bukan beban yang terus harus dipikul. Pulih berarti menemukan kembali hal-hal kecil yang membuat hati bahagia: melihat senyum orang-orang yang tulus, orang baru dengan cerita barunya, udara pagi yang segar, atau doa yang menenangkan. Setiap langkah kecil menuju kebahagiaan adalah tanda bahwa luka mulai berubah menjadi kekuatan. Aku sadar, orang baru tidak akan otomatis menyembukan luka, tapi menjadi rumah kembali bagi dia merupakan kebahagiaan tersendiri buatku.
Rasa sakit memang pernah membuatku runtuh, tetapi kucoba tumbuhkan keberanian baru untuk melangkah. Pulih bukan berarti melupakan, melainkan berdamai dengan apa yang terjadi (lagunya siapa ini lah hemm...). Saat mampu menatap luka tanpa lagi merasa terhancur, saat bisa menatap statusmu, fotomu, dan pertemuanmu dengan orang baru aku abai, itulah mungkin tanda bahwa hatiku sedang belajar sembuh. Dan pada akhirnya, aku menyadari: meski dia baik-baik saja di sana, aku pun harus bisa baik-baik saja di sini, mencoba merajut versi diri yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih berani mencintai hidup.
Rabu, 04 Februari 2026
Kehilangan yang tidak ku pilih
Aku pernah marah dan tidak menerima pada kehilangan yang datang tanpa mengetuk dan mengambil sesuatu yang belum ingin kulepas. Tapi waktu dengan sabarnya mengajariku cara menerima, cara menghargai diri sendiri, dan menyadarkan akan ketidak tulusan seseorang. Waktu membimbing bahwa tidak semua pelepasan adalah musuh. Beberapa justru mengajarkan kita menuju tempat yang lapang yaitu tenang. Jalan yang mungkin selama ini hilang karena memperjuangkan orang yang tidak bisa menghargai. Sekarang aku menjalani hariku tanpa menyalahkan keadaan, aku hanya perlu menyelaraskan langkah dengan apa yang harus dijalani dan terjadi. Asinglah selamanya, seperti chat terakhirmu bahwa kamu tidak ada kaitan apapun, hanya karena ada orang baru. Larilah sesukamu, meski tak akan pernah kuikhlaskan untaian kata yang senantiasa menyakiti hatiku. Aku memang berdamai tapi untuk diriku sendiri, bukan kamu.
Kamis, 25 Desember 2025
Aku Pamit
Pergi bukanlah pilihanku - namun rupanya takdir tidak memberi kita pilihan untuk tetap tinggal. Aku menyayangimu terlalu dalam, hingga pergi terasa seperti kehilangan sebagian diriku sendiri. Setiap langkah yang menjauh bukanlah sekedar jarak, namun luka yang harus aku terima tanpa tahu kapan untuk benar-benar sembuh.
Hatiku sesungguhnya tidak benar-benar pergi, ia masih tertinggal dengan caramu hari, pada perhatian setiap saatmu sehingga aku merasa aman. Ada rindu yang tidak pernah bisa belajar diam; bahkan ketika logika memintaku pulang, hatiku justru memilih untuk menetap.
Aku mencoba dan selalu berupaya bertahan, meyakinkan diri bahwa cinta tidak bisa hanya dengan kesabaran untuk selalu berjuang memiliki. Namun nyatanya semakin lama justru aku semakin mengerti bahwa cinta itu bukan untuk diperjuangkan, melainkan justru untuk dilepaskan. Aku merasa bahwa cintaku tidak pernah kurang, perhatianku tidak pernah lekang, tapi justru karena terlalu penuh sehingga terlalu dalam untuk dipaksa berjalan melawan arah takdir.
Untuk itu, aku memilih pergi, jujur bukan dengan hati yang siap; melainkan jiwaku lelah dan keberanian yang tersisa. Aku mengikuti takdir dengan tangan gemetar, dada semakin sesak, dan pikiran tak menentu. Aku berupaya menyimpan cinta ini sebagai doa yang tidak akan pernah lagi kusebut namanya.
Dan jika suatu hari rasa ini bertanya, aku akan menjawab: aku hanya belajar taat pada takdir, dan menghargai diri sendiri sepenuhnya. Tak lagi akan mengupayakan atau bertanya kabar. Sebab semua sudah berlalu tanpa ada peduli sedikitpun darimu.
Aku pamit ya, doakan aku selalu bahagia.
Senin, 25 Agustus 2025
Langkahmu Sudah Terlalu Jauh Untuk Kembali ?
Masih berharap dan bertahan karena langkahmu sudah terlalu jauh ? Kamu masih bertahan dan berharap untuk kembali meskipun kamu sudah ditinggalkan tanpa merasa bersalah.
Kawan, kamu terlalu berharga untuk disakiti, kamu terlalu sayang untuk merawat luka karena orang yang tidak pernah tau berterima kasih.
Kamu mungkin terlalu sabar, terlalu pemaaf, dan terlalu bodoh untuk mempertahankan sebuah hubungan yang tidak setara. Kamu terlalu berharga untuk mengelola hati bagi seseorang yang tak pernah menganggapmu ada.
Meski kamu sudah bersama sekian lama, setiap kali kamu ingin pergi kamu selalu berpikir langkahmu terlalu jauh untuk kembali. Kawan, hidup ini terlalu singkat untuk seseorang yang tak pernah bisa menjaga. Kenapa menyiksa diri sendiri untuk orang yang tidak bisa menghargai.
Kamis, 10 Juli 2025
Berdamai Dengan Apa Yang Terjadi
Banyak dari kita ini kadang mengalami proses yang tidak mudah, menjalani hidup dengan beban pikiran, dan barangkali ada masalah hati yang belum kunjung usai. Saya pikir lagu mangu meski tidak relevan dengan tema lagu tapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Point utamanya berdamai dengan keadaan atau apa yang terjadi. Bersikap penuh penerimaan dengan kata lain ikhlas. Ya dengan ikhlas maka hal yang berat akan menjadi lebih melegakan apalagi jika telah mampu melepaskan apa yang menjadi beban.
Terkait dengan orang lain, bagi yang tidak bisa menghormati dan tidak tau caranya menghargai maka tinggalkan dengan tegas. Terkadang karena memiliki memori yang baik kemudian disakiti maka seolah-olah masih ada harapan, namun nyatanya orang lain itu bisa nampak bahagia tanpa adanya kita di kehidupannya. Untuk itu, mari sembuhkan diri sendiri, hargai diri sendiri, jangan lagi merendahkan diri demi sebuah kabar. Orang yang sayang tentu tidak akan menyakiti, orang yang empati maka akan penuh peduli meski tanpa diminta.
Perlu dendam ? buat apa... toh dia tidak akan kembali, doa saja biar dia punya dan dapat balasannya apapun bentuknya. cukup itu.. selebihnya doakan diri kita sendiri agar senantiasa kuat dan ikhlas dalam menerima dan menjalani yang memang harus dijalani.
Mau diblokir ya sok atuh... toh nanti suatu saat akan butuh kita.
Yuk Berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan apa yang akan dan telah terjadi. Sebab hidup ya kita yang menjalani bukan orang lain atau tergantung orang lain.
Jangan menyakiti jika kita tidak ingin disakiti. Itu.
Senin, 05 Mei 2025
Cara Sembuh Terbaik Adalah Dengan Melupakan
Dalam setiap kesempatan dalam perjalanan kehidupan ini pasti telah mengalami banyak hal, merasakan bahagia, senang, maupun hal yang sebaliknya. Ketidakpastian kehidupan menjadikan kita sebagai hamba Tuhan untuk senantiasa berserah diri dengan selalu berdoa dan berupaya agar apa yang menjadi alur kehidupan kedepannya adalah hal yang selalu baik dan membahagiakan. Terkadang karena sebuah keinginan kita berupaya dengan sangat keras hingga pada titik yang kita sendiri tak mampu menyimpulkan kapan harapan tersebut akan terwujud.
Harapan adalah doa, betul sekali... namun ekspektasi yang terlalu tinggi terkadang membuat kecewa. Banyak hal yang memang diluar kendali kita, banyak unsur yang membuat kita harus menyadari bahwa semua harus nurut dan manut atas apa yang kita inginkan. Tak terkecuali jika kita tidak bisa mengatur hidup agar sesuai rencana. Yang datang akan datang dengan tenang dengan sendirinya, pun yang pergi akan meninggalkan dengan caranya. Namun, dibalik itu semua kita sangat bisa memilih untuk bagaimana menyikapi dan menanggainya. Mau panik, mau tenang itu pilihan dan keputusan kita sendiri. Coba saja untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Sisanya ? Ya biarlah hukum alam dan semesta yang menyelesaikannya. Kamu yang disakiti ya terima saja bahwa itu memang jalanmu. Jika sudah sangat effort, sudah berupaya & berusaha sebaik mungkin namun tidak dihargai... ya sudah, berarti dia tidak bersyukur diberikan kesempatan orang yang tulus.
Simpan energimu untuk yang akan datang tanpa diminta, sisakan sayangmu untuk orang yang bisa lebih menghargaimu dalam hal apapun. Kamu cukup tenang dan tetap lets'go.