Kamis, 03 Januari 2019

Review Film: Replicas (2019)



Akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 ini dunia perfilm-an sedang ramai merilis film-film bagus seperti Aquaman, Bumble Bee, dan sebagainya. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai penggemar film Sci-Fi adalah film berjudul REPLICAS. Film yang naskahnya ditulis oleh Chad St. John (London Has Fallen) dan disutradarai oleh Jeffrey Nachmanoff (penulis The Day After Tomorrow) ini dibintangi oleh Keanu Reeves, Thomas Middleditch (Silicon Valley), Alice Eve (Star Trek Into Darkness), Emily Alyn Lind, John Ortiz dan Emjay Anthony.
Dalam film thriller sci-fi ini, seorang neuro-scientist bernama  William Foster (Keanu Reeves) berada di ambang sukses dalam sebuah proyek memindahkan kesadaran manusia ke dalam komputer ketika keluarganya secara tragis tewas dalam kecelakaan mobil. Putus asa untuk membangkitkan mereka, William merekrut sesame ilmuwan, Ed Whittle (Thomas Middleditch) untuk membantunya diam-diam mengkloning tubuh mereka dan membuat replikanya. Tetapi dia segera menghadapi pilihan sulit ketika ternyata mereka hanya dapat membawa tiga dari empat anggota keluarga untuk “dihidupkan” kembali.
Menurut saya, film ini sangat menarik untuk ditonton karena nuansa Sci-Fi nya kerasa sekali. Bagaimana teknologi yang digunakan ketika menganalisis struktur syaraf yang sudah menggunakan teknologi mirip film Iron Man. Berawal dari seorang ilmuwan yang mengerjakan proyek transfer "kehidupan" seseorang yang telah koma ke sebuah badan robot (AI) yang ternyata mengalami disfungsi karena ada mekanisme yang terlewatkan. Alih-alih film drama, keluarga si ilmuwan yang hendak berlibur mengalami accident sehingga empat anggota keluarganya tidak terselamatkan, berbekal keahliannya mereka semua diambil memorinya kedalam sebuah alat penyimpan memori, yang dengan itu mereka akan dikloning ulang menjadi sosok yang sama.
Singkat cerita, proses pengkloningan tersebut berhasil dan dapat mengembalikan seluruh anggota keluarga si ilmuwan tersebut.

Kekuatan film: pada teknologi dan inspirasi tentang bagaimana "menghidupkan" kembali orang ke dalam tubuh AI. Ini mirip2 seperti robot-robot humanoid yang saat ini telah berhasil di kembangkan oleh Jepang.

Kejanggalan Film: Teknologi kloning hanya di lakukan di rumah, berbantuan tenaga cadangan Aki dalam waktu 17 hari. Okelah bahwa memory bisa ditransfer kembali ke tubuh hasil kloning, namun "ruh/nyawa"-nya bagaimana ya ?
Ah..namanya juga film, jika tidak menimbulka tanda tanya besar tentu tidak seru. Silakan sobat tonton sendiri ya, itu di atas sudah saya sertakan thrilernya. Selamat menonton, jangan lupa komen jika hendak berdiskusi.

Salam....

Semangat Tahun 2019


Sobat, alhamdulillah tahun 2018 telah kita lewati, dan tahun 2019 sudah kita masuki. Tentu banyak resolusi dan doa-doa yang kita panjatkan kepada Tuhan di awal tahun ini semoga menjadi tahun yang membawa kebaikan, keberkahan, keselamatan, dan rejeki yang tak terkira. Aamiin. 
Seiring pergantian tahun, tentu saja bagi sebagian orang memiliki target tertentu di tahun 2019 baik pekerjaan, studi, hubungan (pernikahan misalnya), maupun hal-hal lain yang diinginkan. Terlepas dari itu semua tentu kita telah memikirkan bagaimana strateginya dan langkah nyata apa yang hendak ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.
Untuk itu, melalui posting singkat ini mari kita berupaya dan berdoa sebaik mungkin agar di tahun 2019 ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Salam...

Jumat, 30 November 2018

Ukuran Kesuksesan

Selamat pagi sahabat, tak terasa kita sudah dipenghujung bulan November. Segala evaluasi dan perencanaan tentunya sudah kita siapkan untuk menyambut awal bulan Desember, meskipun perencanaan itu rutinitas adanya. Apapun bentuknya semoga diberikan kemudahan dan keberkahan. Aamiin. Penghujung bulan November ini merupakan momen yang mungkin ditunggu oleh sebagian orang karena masuk bulan Desember yang berarti akan mengakhiri tahun 2018 ini. Bagi sobat Nasrani tentu sudah mempersiapkan untuk meyambut hari Natal, bagi yang tidak merayakannya akan mengisi dengan liburan atau agenda lainnya. Disisi lain, tentu akhir tahun bukanlah untuk merayakannya namun untuk melakukan evaluasi tentang apa yang telah dilakukan dan diperoleh selama tahun 2018; capaian apa yang sudah diraih, target apa yang belum dicapai, dan bagaimana strategi untuk mewujudkannya selama sebulan ke depan.
Memang dalam kehidupan ini ukuran kesuksesan "sebagian" masih diukur dengan nilai materi. Sering saya menyimak postingan seseorang yang telah mentas dan menjadi sosok bos diperusahaannya. Dalam setiap postingannya selalu memotivasi orang lain untuk berusaha dan menggali potensi diri guna mengembangkan kemampuan serta kekayaan. Namun ada sisi lain, kesombongan berbalut nasihat kadang masih saja muncul disetiap postingannya, tentang prestasinya, tentang segala macam proyeknya, dan sebagainya.
Iri, ya jelas lah...siapapun yang mengetahui masa lalunya tentu iri....namun keirian itu tidak boleh berlarut karena kenyataannya dia memang seperti itu, sukses dan punya uang banyak. Lalu mau apa ?
Kesuksesan bisa dimaknai pula sebagai capaian kebahagiaan yang diraih....alih-alih kita belajar fisika, seseorang yang telah bergerak dengan kecepatan mula-mula seseorang yang dimodali orang tua, ndilalah dapat pasangan dari keluarga mapan dengan gaji tinggi, lalu mau apa ? Iri .... ?? ya tidak usahlaah...kehidupan sudah ada yang mengatur.
Bagi kita sekarang adalah, memaafkan diri sendiri, memperbaiki diri, dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi dengan segala konsekuensinya. Biarkan orang lain mau bilang apa, yang penting kita sudah berusaha yang terbaik.
Bagi kita sekarang adalah jangan pernah mengurusi orang lain, apalagi urusan pribadinya...urusan kita saja belum tentu benar kok sudah mau mengurusi pribadi orang lain.
Akhir kata, mari kita refleksi diri...jangan menyalahkan orang lain atas kekecewaan kita. Jika kita punya cermin perbanyaklah bercermin sebagus apakah diri kita.
Salam....

Rabu, 07 November 2018

Bertutur Baik, Berlaku Baik

Tindakan apapun itu namanya saat diri sedang tidak stabil atau labil biasanya diluar kendali akal yang sehat. Baik dalam bertutur kata, bertingkah laku, maupun bersikap terhadap suatu hal. Terkadang kita karena luapan emosi atau perasaan yang sangat tidak mengenakkan dengan mudah mengeluarkan kata-kata maupun ujaran yang bisa jadi melukai perasaan orang lain. Pun begitu dengan postingan kita di media sosial. Di era keterbukaan dan privasi ini dengan mudahnya kita mengungkap apa isi hati melalui status maupun caption; yang sedang bahagia akan meluapkan kebahagiaannya dengan menuliskan hal-hal indah, yang sedang sedih sebagai ajang curahan hati, dan yang iri menyiyir saja kerjaannya.
Alih-alih menjaga diri agar tidak terjebak pada ujaran kebencian, maka hati-hatilah dalam membuat suatu tulisan, ujaran, postingan, atau apapun yang bernada menyinggung perasaan orang lain. Mamang sih, itu hp kita, akun status kita yang bisa kita manfaatkan secara bebas dan luas...namun kebebasan dan keluasan itu terbatas karena kita berinteraksi dengan orang lain.
Jika tidak suka cukup rasakan ketidaksukaan tersebut, abaikan, bahkan buang jauh-jauh segala hal tentang hal yang tidak disukai tersebut.
Jika suka, cukup nikmati kesukaan tersebut tanpa berlebihan hingga menimbulkan salah persepsi.
Dan yang paling penting, apapun masa lalu seseorang biarkan itu jadi masa lalu, jangan pernah mengungkitnya, bantulah dia agar bangkit dan menjadi sosok yang lebih baik.

Rabu, 12 September 2018

Teman Sejati Adalah Diri Sendiri

Sering dan bahkan setiap saat kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita, baik tempat tinggal, sekolah, pekerjaan, hiburan, dan sepermainan. Kehadiran teman membawa suasana tersendiri, dapat meluapkan semua rasa entah itu gembira, bahagia, susah, sedih, bahkan untuk hal-hal yang bersifat pribadipun, seorang teman menjadi tempat bertambat seseorang.
Teman, adalah orang lain yang dipertemukan dalam suatu suasana sehingga terjalin ikatan kesamaan persepsi dan asumsi, sehingga kadang kita merasa nyaman dan asik bersamanya. Teman dalam tataran lebih tinggi dapat naik kelas menjadi sahabat yang boleh dikatakan pertemanan yang rekat tanpa hubungan rasa.
Teman sejati, adakah ..... ?
Jawabannya pastinya tidak ada....teman yang sudah dianggap saudara pun kadang dengan tega membunuh pertemanan dengan mengumbar aib dan kejelekan kita di hadapan orang lain, atasan, atau apalah yang membuat dia seolah bak seorang pahlawan. Alih-alih ingin membantu kadang kita justru terperosok dalam lubang penghianatan,
Jadi, bersahabatlah dengan diri sendiri dulu, kenali diri dengan segenap kekurangan dan potensi yang ada....jika ada kekurangan perbaiki, jika ada potensi dikembangkan lagi.
Biarkan orang lain menilai, toh semua kita yang menjalani. Saat kita terpuruk apakah mereka pedulii ? Sedikitpun tidak....!!
Mereka cuci tangan seolah tak tahu menahu, mereka menganggap semua adalah kesalahan dan mereka pahlawan....apakah itu arti seorang teman bahkan sahabat ??

Dari simbah banyak nasehat....seandainya kamu membalasnya dengan hal serupa atau lebih parah, jangan lakukan itu...sebab kamu adalah pribadi baik. Lakukan kebaikan tanpa mengenal lelah, baiklah untuk semua orang meski dengan kebaikanmu itu sering hanya dimanfaatkan lantas kamu dibuang...berbuat baiklah karena baik tidak pernah salah.
Berdamailah dingan diri sendiri, gali potensi, upayakan yang terbaik, berserah diri kepada Allah swt. 

Istighfar


Istighfar - Mohon ampunan kepada Allah swt. Sebuah tindakan baik itu tutur kata atau perbuatan kita di muka bumi ini pasti ada kekeliruannya. Kekeliruan karena kehendak atau kekeliruan karena keadaan. Istighfar dengan mengucapkan Astaghfirullah (أستغفر الله‎ ʾastaġfiru l-lāh) adalah ucapan lisan yang kerap diucapkan tatkala saudara Muslim merasa melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi tuntunan. Sebenarnya bukan hanya saudara-saudara muslim saja yang mengucapkan itu, pengalaman saya berada di sebuah sekolah non muslim, rekan-rakan sering melontarkan ucapan seperti itu. 
Lantas apa bedanya, istighfar tentu saja dapat dimaknai sebagai ucapan lisan yang muncul dari dalam diri dan hari yang kemudian diucapkan dengan lisan.
Istighfar tidak ada salahnya dilakukan disetiap saat disetiap waktu, sebab kita tidak tahu perhomonan ampun kapan didengar oleh Allah swt....perbanyaknyah istighfar....

Begitulah sekelumit nasihat yang saya selalu pegang teguh dari senior....saat tertimpa kemelut perbanyaklah istighfar, saat banyak masalah teruslah beristighfar...semoga keluar dari kemelut dan masalah....

Kamis, 23 Agustus 2018

Dimanakah Norma Publik Figur ?



Perilaku artis di TV semakin hari semakin tidak dapat dimengerti. Alih-alih kesenangan, kebanggaan atau penghargaan atas suara emas seorang peserta audisi sang komentator atau juri membalikkan kursinya dengan memencet tombol menggunakan kaki. Tentu ini kurang etis bagi seorang publik figur apalagi yang menonton notabene adalah anak-anak. Miris memang, saat anak SD tanpa sengaja menonton acara tersebut, melihat dua orang juri memencet tombol dengan kaki.... Disini peran orang tua sangat diperlukan untuk mendampingi dan memberikan pengertian bahwa sikap dan tindakan tersebut sangat TIDAK SOPAN dan TIDAK BAIK. 
Saatnya selektif terhadap acara TV yang kurang mendidik.