Ada luka yang ingin kubalas dengan luka. Namun ternyata ia baik-baik saja, seolah tak pernah merasa perih yang kutanggung. Aku hanya bisa menyimak dari jauh, melihat statusnya bersama orang lain, dan rasa sakit itu menyalip segala logika. Sakitnya luar biasa, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tahu aku punya daya, aku tahu aku bisa menghancurkannya sehancur-hancurnya. Namun ternyata dia nampak baik-baik saja. Posting status tanpa rasa bersalah dan nampak begitu menikmati suasanya. Lalu doa yang dipanjatkan agar dia juga terluka apakah terlaksana ? TIDAK. Ada kuasa yang lebih besar, ada takdir yang sudah digariskan. Aku hanya manusia yang sedang belajar menerima bahwa balas dendam tidak selalu menjadi jalan keluar.
Jujur, menyaksikan kebahagiaannya bersama orang lain adalah ujian yang paling berat. Ada rasa iri, ada rasa kehilangan, ada rasa marah yang bercampur menjadi satu. Tetapi di balik semua itu, aku mulai memahami bahwa luka bukan untuk dibalas, melainkan untuk dipelajari. Luka adalah guru yang mengajarkan tentang kesabaran, tentang keikhlasan, dan tentang kekuatan yang tersembunyi dalam diam. Aku belajar bahwa tidak semua hal bisa kuatur sesuai kehendak. Ada hal-hal yang harus kuserahkan pada kuasa yang lebih tinggi. Ada jalan yang harus kutempuh sendiri, meski penuh duri dan air mata. Dan mungkin, suatu hari nanti, luka ini akan berhenti berdarah. Ia akan menjadi bekas yang menguatkan, tanda bahwa aku pernah jatuh, tapi juga pernah bangkit.
Pada akhirnya, aku menyadari: membalas luka dengan luka hanya akan melahirkan lingkaran perih yang tak berujung. Sedangkan menerima luka dengan hati yang lapang, meski sulit, adalah jalan menuju kedewasaan. Biarlah ia bahagia dengan pilihannya. Sementara aku belajar merawat luka, hingga suatu hari nanti aku bisa tersenyum, bukan karena luka itu hilang, tetapi karena aku berhasil berdamai dengannya.