Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2026

Aku, Kamu, dan Waktu

 Disela-sela lelahnya hari ini kubuka perangkat kecil usang ini, mencoba menelusuri kabar baru apa saja yang dituliskan disetiap kontak... dan, kulihat postinganmu yang nampak baik-baik saja (tidak) seperti yang kuharapkan. Kecewa ... tapi itulah hidup jalur dan alurnya sudah diatur.
Aku pernah setiap saat menyebut namamu
Setiap waktu selalu ada pesan masuk bertanya ini dan itu
Sepertinya aku menjadi sebuah rumah untukmu kembali setiap saat
Penuh percaya, tanpa ragu.
Akupun berjalan bersamamu sejauh aku mampu
Menjaga yang kukira akan bertahan lebih lama.
Ternyata saatnya telah tiba
Kini kita hanya dua kenangan yang terpisah jarak dan waktu
Namun, sebelum benar-benar selesai, aku pernah seberjuang itu tanpa kenal lelah
Hingga akhirnya kekecewaan dan sakit yang ditorehkan melalui pesan dan kalimatmu
Tapi... ternyata akupun harus berterima kasih
Karena darimu, aku bisa belajar satu hal yang jujur
Bahwa kekecewaan memang perlu hadir agar aku tahu
Betapa mahalnya harga diri dan ketulusan. 
Itu....

Minggu, 26 April 2026

Mundur Alon-Alon...

Jika hidup itu adalah drama, maka segala drama itu telah usai. Segala upaya dan effort yang kadang tidak masuk akal telah pupus dimakan waktu. Jika kamu tidak mengingatnya ya pastinya begitu karena kamu telah merajut cerita baru. Seadainya waktu bisa dibalikkan, maka sangat berharap tidak akan dekat denganmu, namun inilah hidup yang tidak dapat dihindari jalan dan prosesnya. 
Ternyata tidak semua rindu adalah nyata pun tidak semua rindu akan berakhir dengan bertemunya dua bahu. Mungkin kita adalah pengembara yang tersesat di jalan raya yang keliru, meskipun sudah berbantuan peta sayang, namun tetap saja arahnya akhirnya berbelok. 
Kadang kita terlalu sibuk untuk membangun rumah diatas tanah yang sebenarnya bukan untuk diri kita, mencoba menyatukan dua doa yang muaranya sendiri masih didaerah abu; mencoba memaksakan langkah agar tetap searah padahal kita tahu bahwa yang dijalani sebuah tanpa arah. 

Seperti halnya kadang perjalanan tanpa tujuan, terkadang kita hanya keluar mencari udara segar, melepas penat diatas tugas-tugas yang demikian menyita tenaga...namun masih saja belum menemukan titik kejelasan mau apa dan mau kemana. Hingga akhirnya kuputuskan mudur banyak langkah, bukan karena rasa yang telah sirna, tapi kelelahan tanpa tepi. Aku hanya ingin mengembalikan energi dan mengembalikan arah yang menyimpang terlalu jauh. 

Jika kamu pernah menuliskan pesan kepada seseorang di layar itu "kembalilah, banyak yang ingin kuceritakan kepadamu"; maka dengan tegas kutuliskan pergilah dengan cerita barumu, sedikitpun aku tak akan mengganggumu lagi, meski untuk itu terkadang menyesakkan dada. 

Sebab pada akhirnya, ketenangan diri adalah segalanya. Tak lagi ada pesanmu bukan berarti akhir dari segalanya. Memilih untuk diam dan pergi merupakan langkah jelasku. Mundur alus...

Selasa, 21 April 2026

Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Malam itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani. Di balik kelopak mata yang terpejam, hadir kembali sosok yang pernah begitu berarti. Seseorang yang kusebut kekasih yang dulu mengisi hari-hari dengan tawa, kini hanya tinggal bayangan samar yang kerap muncul dalam mimpi. Seolah nyata, seolah masih ada, meski kenyataannya telah lama pergi.

Rindu itu datang tanpa diundang, menyelinap di sela-sela kesibukan, menyesakkan dada ketika ingatan masa lalu kembali menyeruak. Namun di sisi lain, ia tak pernah peduli. Saat ulang tahun, tak ada ucapan selamat. Saat hari raya, tak ada sapaan hangat. Semua terasa dingin, seakan kehadiran dan kerinduan ini tak pernah berarti baginya.

Seseorang itu terus bergulat dengan bayangan masa lalu. Ada harapan kecil yang masih tersisa, meski logika berkata bahwa semua sudah berakhir. Bayangan seseorang hadir sebagai pengingat, bahwa cinta pernah tumbuh, pernah bersemi, dan pernah memberi arti. Kini yang tersisa hanyalah kenangan yang tak bisa dihapus, meski waktu terus berjalan.

Dan di tengah rasa rindu yang tak terbalas, ia belajar menerima kenyataan: bahwa tidak semua yang dirindukan akan kembali, dan tidak semua yang pernah dekat akan peduli. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri, yang harus kuat berdiri, meski bayangan masa lalu terus menghantui.

Hemm, sudahlah...hidup ini tidak hanya tentang dirinya. Sangat disayangkan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk seseorang yang tidak tahu caranya menghargai. Kepergianku mungkin menjadi tenang bagimu, tapi kupastikan seumur hidupmu tak akan pernah bertemu dengan versi ku di orang manapun. Dan ingat, sakit ini tak akan pernah termaafkan, meski hati tetap harus merelakan.

Minggu, 19 April 2026

Sisa Rindu Itu (Hanya) Kontak Yang Tak Dihapus

Membuka dan scrol kembali semua chat kita adalah kegiatan yang masih sering ku lakukan, kadang tersenyum sendiri mengingat hangatnya pembicaraan kita, intens-nya chat kita tanpa jeda sedikitpun. Bahkan kamu sering bercerita keseharian kegiatanmu meski tanpa aku minta; yang lebih menenangkanku saat kamu tiba-tiba mengirim foto kegiatanmu, aktivitasmu, dan sekedar pamer kerudung baru. Seru dan sangat menenangkan bahwa kamu dan aku ada untuk kita. Itu dulu....
Sekarang ?
Aku tak pernah menghapus namamu dari ponselku
Diantara kontak yang masih dapat ku hubungi
Meski nomor itu tak pernah lagi menuju kemanapun lagi
Kadang aku berhenti lama saat membuat ruang chat itu
Manatap pesan yang rasanya tidak akan pernah dijawab lagi

Aku tak lagi mencarinya
Tak juga berani untuk menghapusnya, karena kehilangan semuanya adalah sakit yang paling jujur
Ada hal kecil yang kita simpan, entah dimana posisinya saat ini
Jujur aku ingin pernah menghapus, tapi seolah ada yang menahan
Bukan karena berharap ingin kamu dapat kembali
Melainkan takut aku akhirnya tidak punya apa-apa lagi darimu

Hingga akhirnya kubiarkan kontak itu terlukis namamu
Kontak yang kadang nampak profilnya kadang tidak
Aku sadar, mungkin suatu saat aku akan membiarkan tanpa menyentuh sedikitpun kontakmu
Hingga saatnya benar-benar merelakan untuk menghapus semua tentangmu
Hingga saatnya melihat foto yang kamu kirim tak lagi menyentuh hatiku
Hingga tak lagi membawa kesan buatku....
Semua hanya masalah waktu.... karena sisa rindu ini hanya ada di kontakmu yang takkan ku hapus.


Rabu, 15 April 2026

Kamu (Bukan) Lagi Rumah Untuk Kembali

"Are you oke ?" pertanyaan bodoh dari untuk orang yang telah menyakiti hati. Sudah jelas jika apa yang dilakukan dan diucapkan itu sangat mengganggu jiwa dan raga masih tega bertanya seperti itu.  

Teh hangat siang ini membawa sebuah penelusuran kenangan masa itu yang barangkali tetap menggetarkan jemari untuk menuliskannya. seolah setiap huruf adalah serpihan hati yang pecah. Aku pernah memperjuangkanmu dengan segala tenaga, menaruh harapan pada janji-janji yang kau bisikkan, namun akhirnya kau memilih pergi, bukan karena lelah, melainkan karena ada orang lain yang kau anggap lebih layak. Wajar memang, tapi asal kamu tahu bahwa setiap kata yang kau kirim lewat chat, setiap kalimat yang kau tinggalkan, terasa seperti pisau yang mengiris perlahan, meninggalkan jejak perih yang tak kunjung sembuh. Jujur aku pernah berharap kau hancur, agar semesta tahu betapa dalam luka yang kau tinggalkan. Namun ironisnya, di sana kau tampak baik-baik saja, berjalan dengan senyum yang dulu pernah aku perjuangkan. Sementara aku .... tertinggal di ruang sunyi, menatap reruntuhan hati yang perlahan kau patahkan. Pulih dari rasa sakit hati bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan proses yang perlahan menumbuhkan kembali keberanian untuk hidup. Luka itu memang pernah mengiris dalam, namun setiap luka juga membawa ruang untuk sembuh; seperti kata-katamu "siapkan ruang kecewa". Awalnya, ada keheningan yang terasa berat, seolah dunia berhenti di titik kehilangan. Tetapi perlahan, keheningan itu bisa menjadi ruang refleksi tempatku belajar menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan bertahan.

Sembuh berarti memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti menggenggam masa lalu yang menyakitkan. Biarkan kenangan itu menjadi bagian dari cerita, bukan beban yang terus harus dipikul. Pulih berarti menemukan kembali hal-hal kecil yang membuat hati bahagia: melihat senyum orang-orang yang tulus, orang baru dengan cerita barunya, udara pagi yang segar, atau doa yang menenangkan. Setiap langkah kecil menuju kebahagiaan adalah tanda bahwa luka mulai berubah menjadi kekuatan. Aku sadar, orang baru tidak akan otomatis menyembukan luka, tapi menjadi rumah kembali bagi dia merupakan kebahagiaan tersendiri buatku.

Rasa sakit memang pernah membuatku runtuh, tetapi kucoba tumbuhkan keberanian baru untuk melangkah. Pulih bukan berarti melupakan, melainkan berdamai dengan apa yang terjadi (lagunya siapa ini lah hemm...). Saat mampu menatap luka tanpa lagi merasa terhancur, saat bisa menatap statusmu, fotomu, dan pertemuanmu dengan orang baru aku abai, itulah mungkin tanda bahwa hatiku sedang belajar sembuh. Dan pada akhirnya, aku menyadari: meski dia baik-baik saja di sana, aku pun harus bisa baik-baik saja di sini, mencoba merajut versi diri yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih berani mencintai hidup.

Kamis, 10 Juli 2025

Berdamai Dengan Apa Yang Terjadi

Saat ini sedang ramai diruang dengar kita lagu Mangu yang dinyanyikan oleh pelantun aslinya atau di cover oleh banyak penyanyi profesional atau sekedar karaoke yang diunggah di kanal Youtube; bahkan ada cover yang cukup menarik untuk didengarkan dalam genre dangdut koplo oleh Azizah; kalau dibaca komen-komennya lucu sih ada yang menulis, mangu dan ga pengen ngapa-ngapain. Tapi fokus tulisan saya kali ini bukan tentang lagu atau penyanyi ya tapi tema itu. 
Banyak dari kita ini kadang mengalami proses yang tidak mudah, menjalani hidup dengan beban pikiran, dan barangkali ada masalah hati yang belum kunjung usai. Saya pikir lagu mangu meski tidak relevan dengan tema lagu tapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Point utamanya berdamai dengan keadaan atau apa yang terjadi. Bersikap penuh penerimaan dengan kata lain ikhlas. Ya dengan ikhlas maka hal yang berat akan menjadi lebih melegakan apalagi jika telah mampu melepaskan apa yang menjadi beban. 
Terkait dengan orang lain, bagi yang tidak bisa menghormati dan tidak tau caranya menghargai maka tinggalkan dengan tegas. Terkadang karena memiliki memori yang baik kemudian disakiti maka seolah-olah masih ada harapan, namun nyatanya orang lain itu bisa nampak bahagia tanpa adanya kita di kehidupannya. Untuk itu, mari sembuhkan diri sendiri, hargai diri sendiri, jangan lagi merendahkan diri demi sebuah kabar. Orang yang sayang tentu tidak akan menyakiti, orang yang empati maka akan penuh peduli meski tanpa diminta. 
Perlu dendam ? buat apa... toh dia tidak akan kembali, doa saja biar dia punya dan dapat balasannya apapun bentuknya. cukup itu.. selebihnya doakan diri kita sendiri agar senantiasa kuat dan ikhlas dalam menerima dan menjalani yang memang harus dijalani. 
Mau diblokir ya sok atuh... toh nanti suatu saat akan butuh  kita. 
Yuk Berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan apa yang akan dan telah terjadi. Sebab hidup ya kita yang menjalani bukan orang lain atau tergantung orang lain. 
Jangan menyakiti jika kita tidak ingin disakiti. Itu. 

Senin, 05 Mei 2025

Cara Sembuh Terbaik Adalah Dengan Melupakan

Dalam setiap kesempatan dalam perjalanan kehidupan ini pasti telah mengalami banyak hal, merasakan bahagia, senang, maupun hal yang sebaliknya. Ketidakpastian kehidupan menjadikan kita sebagai hamba Tuhan untuk senantiasa berserah diri dengan selalu berdoa dan berupaya agar apa yang menjadi alur kehidupan kedepannya adalah hal yang selalu baik dan membahagiakan. Terkadang karena sebuah keinginan kita berupaya dengan sangat keras hingga pada titik yang kita sendiri tak mampu menyimpulkan kapan harapan tersebut akan terwujud. 
Harapan adalah doa, betul sekali... namun ekspektasi yang terlalu tinggi terkadang membuat kecewa. Banyak hal yang memang diluar kendali kita, banyak unsur yang membuat kita harus menyadari bahwa semua harus nurut dan manut atas apa yang kita inginkan. Tak terkecuali jika kita tidak bisa mengatur hidup agar sesuai rencana. Yang datang akan datang dengan tenang dengan sendirinya, pun yang pergi akan meninggalkan dengan caranya. Namun, dibalik itu semua kita sangat bisa memilih untuk bagaimana menyikapi dan menanggainya. Mau panik, mau tenang itu pilihan dan keputusan kita sendiri. Coba saja untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Sisanya ? Ya biarlah hukum alam dan semesta yang menyelesaikannya. Kamu yang disakiti ya terima saja bahwa itu memang jalanmu. Jika sudah sangat effort, sudah berupaya & berusaha sebaik mungkin namun tidak dihargai... ya sudah, berarti dia tidak bersyukur diberikan kesempatan orang yang tulus. 
Simpan energimu untuk yang akan datang tanpa diminta, sisakan sayangmu untuk orang yang bisa lebih menghargaimu dalam hal apapun. Kamu cukup tenang dan tetap lets'go.

Kamis, 27 Februari 2025

Guru atau Konten Kreator ?

Sebagai tenaga kependidikan tentu memiliki cita-cita mulia untuk memajukan dan mencerdaskan peserta didik secara kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Segala upaya dilakukan untuk menyajikan pembelajaran yang disajikan tersebut dapat diserap dan diterima dengan baik. Guru bagaimanapun latar belakangnya pastilah memiliki "modal" awal berupa pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman akademik maupun pengalaman sehari-hari. Terlepas dari kemampuan akademik dasarnya, seorang guru yang memang dituntut dan dilatih untuk mengajar (menguasai materi dan menguasai kelas), pastilah memiliki ragam cara untuk membelajarkan peserta didiknya. Dari penggunaan metode, model, strategi, dan dengan memperhatikan gaya belajarnya, tujuan akhirnya yaitu agar peserta didiknya paham dan mengerti akan ilmu yang disampaikannya. 
Alih-alih menyenangkan peserta didik, maka ada sebagian guru yang justru membawa kelas tidak fokus pada tujuan awalnya yaitu belajar. Di kelas ada guru yang memberikan film yang tidak berkaitan dengan materi dan diputar menggunakan LCD dan Screen di depan kelas. Ada sebagian guru yang hanya memberikan pengantar di awal pelajaran sekitar 10 menit, kemudian diminta mengerjakan soal-soal di LKS sementara gurunya bersantai di ruang guru atau malah ada yang di kantin menikmati sebat. 
Bahkan, akhir-akhir ini guru-guru muda yang memiliki paras menawan cenderung membuat video di kelas, berjoged-joged ala standar aplikasi tik-tok, dan sebagainya.  Memang, bagi sebagian orang bisa menginspirasi, namun tiadakah guru yang menawan tersebut justru membuat konten yang positif, yang membangun, dan tidak sekedar "pamer" kecantikan dan kemolekannya ?
Justru dengan adanya kesibukan baru guru "konten kreator" ini malah tidak fokus pada tugas pokoknya, sampai-sampai diberita ada wakil kepala sekolah bidang kurikulum lupa dan terlewat mendaftarkan siswanya ikut seleksi masuk perguruan tinggi. 
Ironi memang, disaat guru dimudahkan dengan media namun terjerumus pada arus standar postingan kreatornya. Guru yang notabene memberikan pelajaran justru sibuk editing video untuk setoran postingan agar FYP. 
Jika sudah begini, tentu tidak bisa disalahkan si guru tersebut karena media sosial itu milik siapa saja, hanya saja perlu ada kontrol sosial dari pihak sekolah dan instansi terkait tentang penggunaan media sosial di sekolah. 
Jika postingan membawa kebaikan sekolah tentu tidak masalah, namun jika justru membawa dampak kurang baik tentu perlu adanya pembinaan. 
Jadi, mau jadi guru atau konten kreator ?

Minggu, 17 November 2024

Belajar Menghargai Meski Hal yang Kecil dan Sederhana

Terkadang kita hidup berdampingan dengan orang lain tidak akan lepas dari bantuan, pertolongan, atau niat baik seseorang. Disadari atau tidak, orang yang sayang akan memberikan yang terbaik bagi orang tersayangnya, pun sebaliknya.  Meskipun kadang tidak ada ikatan rasa/ perasaan terkadang ketika kita beranjangsana/ menemui seseorang ada itikat baik untuk membawa buah tangan. Nah, kadang bagi orang yang tidak peka dan kurang bisa menghargai niat orang lain menganggap buah tangan tersebut tidak perlu/ diperlukan, karena selain jenis barang buah tangannya tersebut, harganya kadang masih terjangkau untuk dibeli sendiri. 
Nah, disini kosepnya adalah menghargai ketulusan seseorang ketika berniat baik tersebut. Jangan dilihat dari berapa besar nominalnya dan jenis barangnya; namun ketulusan dan itikat baiknya. Untuk itu, terbukalah untuk menerima dengan lapang dada, dengan penuh kesyukuran, dan minimal ucapan terima kasih. Sebab bisa jadi itulah jalan rejekimu atau jalan rejeki si pemberi dengan harapan Tuhan memberikan gantinya yang lebih baik dan lebih banyak. 
Jangan alih-alih karena tidak suka, tidak berkenan, atau hanya "barang seperti itu aku juga mampu beli" kemudian tidak berterima kasih dan menghargainya. Kalaupun tidak suka dengan pemberiannya cukup simpan dalam hati dan berikan barang itu pada orang yang membutuhkannya. 
Itulah bentuk penghargaan, jangan lukai hati si pemberi dengan berucap, besok lagi jangan belikan apa-apa. Ya Allah, tega ya ada hati yang mampu berucap seperti itu. 
Ingat ya, kita hidup membutuhkan orang lain, sekaya apapun, sesukses apapun, dan semampu apapun ada peran orang lain dalam kehidupan kita. Hargailah sesorang yang tulus memberimu, sebelum orang tersebut sudah tidak lagi peduli padamu. 
Ingat ini untuk pembelajaran saya dan kita semua; budayakan: tolong, maaf, dan terima kasih. 
Semoga menginspirasi.

Rabu, 15 Januari 2020

Antara Ambisi dan Kepercayaan

Selamat pagi sahabat, selamat beraktivitas.

Dunia pendidikan, pekerjaan, maupun sosial kemasyarakatan tidak terlepas dari yang disebut persaingan. Persaingan yang sehat dan sportif akan menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi yang memenangkannya, dan menjadi pemicu bagi yang belum beruntung. Banyak dan ragamnya pemikiran terkadang menjadi batu sandungan bagi langkah kita, adanya perbedaan pola pikir, pola kehidupan, maupun kepentingan dari orang lain di sekitar kita turut mempengaruhi keberhasilan yang diidam-idamkan.
Pada kenyataannya, persaingan positif akan terkikis sirna saat raasa ketidaksukaan mulai merasuk di hati dan pikiran. Ketidaksukaan dapat berawal dari rasa iri, kemudian memunculkan suatu gosip. Perlu pemikiran matang dan dewasa untuk menyelesaikan setiap konflik yang ada. Perlu kelapangan hati untuk menerima sesuatu yang menjadi ambisi. 
Ya, setiap orang berhak dan boleh berambisi namun perlu dilihat situasi dan kondisi terlebih diri pribadi. Jika mampu dan dipandang layak boleh saja mengemban amanah yang diberikan dengan baik dan penuh dedikasi, meskipun akan banyak sandungan di sana-sini.  
Biasanya melalui ambisi akan mencoba menyingkirkan apapun yang dapat menghalanginya dengan cara apapun, bahkan dapat melakukan kecurangan maupun menjatuhkan teman.
Sedangkan orang yang tidak berambisi namun memiliki dedikasi tentunya akan memperoleh kepercayaan. Melalui kepercayaan maka semua hal akan terasa mudah dan ringan karena adanya trust tersebut dapat menjembatani menuju hal yang dicita-citakan.
Tak perlu menjatuhkan, tak perlu teriak dimana-mana, lakukan dengan baik, raih kepercayaan, niscaya akan mudah segalanya. 

Minggu, 29 Desember 2019

Memajukan Industri Kreatif Tanah Air


Selamat akhir pekan sobat, selamat menikmati hari libur akhir tahun bersama keluarga, rekan, dan sahabat tersayang. Semoga akhir tahun ini menjadi sarana refleksi dan memperbaiki diri selama satu tahun kebelakang. Apa yang sudah dicapai, apa yang belum memenuhi target, dan apa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan, semoga terwujud di tahun 2020 nanti. 
Ingat ya perayaan malam tahun baru bukanlah hal wajib, tidak ada kebaikan apapun yang dikandungnya, hanya prosesi perpindahan waktu seperti malam-malam sebelumnya. 

Anyway busway, saya ini penikmat film-film yang bertebaran di internet, alih-alih hemat uang untuk menontonnya di bioskop lebih baik bersabar menunggu muter-muter buffering atau bersabar bekerja dibalik prosesi download yang lambat, hanya untuk dapat menikmati film yang ditunggu dan disuka. Silakan membully tidak mendukung industri kreatif tanah air atau apalah, yang pasti saya tidak sendirian, buanyakkkkk sobat lain yang melakukan kegiatan serupa bukan ? Agak kaget sebenarnya saat mengunjungi situs indoxxi ada warning akan ditutup, kecewa iya, tapi gimana ya...haduhhh....trus orang yang duitnya hanya untuk kebutuhan sehari-hari ini gimana ya kalau mau nonton film ?
Apakah harus nunggu nonton di TV yang akan tayang 2 tahun kemudian, itupun TV sekarang di desa ga semua bisa diakses?


Iya bener sih, alasan pemerintah memberlakukan hal demikian krn dapat mematikan pundi-pundi sang pembuat film. Malah dapat info jika indoxxi meraup 200 juta per bulan atau per hari ya dari iklan yang dipasang itu.
Ya pada intinya, banyak yang kecewa tidak dapat menikmati film gratis itu saja. 
Ada saran yasudah, nikmati saja saluran film yang legal dan bayar. Haduhh... film itu kebutuhan tersier ya, jadi mending buat beli nasi rames.

Demikian, jika ada pendapat silakan komen saja, kita diskusikan. Nuwun.
Selamat Bertahun Baru 2020. Semoga segalanya lebih membaik. Aamiin. 

Jumat, 30 November 2018

Ukuran Kesuksesan

Selamat pagi sahabat, tak terasa kita sudah dipenghujung bulan November. Segala evaluasi dan perencanaan tentunya sudah kita siapkan untuk menyambut awal bulan Desember, meskipun perencanaan itu rutinitas adanya. Apapun bentuknya semoga diberikan kemudahan dan keberkahan. Aamiin. Penghujung bulan November ini merupakan momen yang mungkin ditunggu oleh sebagian orang karena masuk bulan Desember yang berarti akan mengakhiri tahun 2018 ini. Bagi sobat Nasrani tentu sudah mempersiapkan untuk meyambut hari Natal, bagi yang tidak merayakannya akan mengisi dengan liburan atau agenda lainnya. Disisi lain, tentu akhir tahun bukanlah untuk merayakannya namun untuk melakukan evaluasi tentang apa yang telah dilakukan dan diperoleh selama tahun 2018; capaian apa yang sudah diraih, target apa yang belum dicapai, dan bagaimana strategi untuk mewujudkannya selama sebulan ke depan.
Memang dalam kehidupan ini ukuran kesuksesan "sebagian" masih diukur dengan nilai materi. Sering saya menyimak postingan seseorang yang telah mentas dan menjadi sosok bos diperusahaannya. Dalam setiap postingannya selalu memotivasi orang lain untuk berusaha dan menggali potensi diri guna mengembangkan kemampuan serta kekayaan. Namun ada sisi lain, kesombongan berbalut nasihat kadang masih saja muncul disetiap postingannya, tentang prestasinya, tentang segala macam proyeknya, dan sebagainya.
Iri, ya jelas lah...siapapun yang mengetahui masa lalunya tentu iri....namun keirian itu tidak boleh berlarut karena kenyataannya dia memang seperti itu, sukses dan punya uang banyak. Lalu mau apa ?
Kesuksesan bisa dimaknai pula sebagai capaian kebahagiaan yang diraih....alih-alih kita belajar fisika, seseorang yang telah bergerak dengan kecepatan mula-mula seseorang yang dimodali orang tua, ndilalah dapat pasangan dari keluarga mapan dengan gaji tinggi, lalu mau apa ? Iri .... ?? ya tidak usahlaah...kehidupan sudah ada yang mengatur.
Bagi kita sekarang adalah, memaafkan diri sendiri, memperbaiki diri, dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi dengan segala konsekuensinya. Biarkan orang lain mau bilang apa, yang penting kita sudah berusaha yang terbaik.
Bagi kita sekarang adalah jangan pernah mengurusi orang lain, apalagi urusan pribadinya...urusan kita saja belum tentu benar kok sudah mau mengurusi pribadi orang lain.
Akhir kata, mari kita refleksi diri...jangan menyalahkan orang lain atas kekecewaan kita. Jika kita punya cermin perbanyaklah bercermin sebagus apakah diri kita.
Salam....

Senin, 16 April 2018

Semangat dan Menyemangati

Selamat pagi menjelang siang sobat....bagaimana kabar sobat hari ini ? Semoga berkah kesehatan dan kelimpahan rejeki untuk kita semua. aamiin.
Seandainya kita bisa memutar kembali peristiwa, kejadian, atau ke masa lalu tentu saja kita berkeinginan untuk mengubah jalan hidup yang tidak baik menjadi lebih baik. Mengubah peristiwa yang kurang menyenangkan menjadi kenangan yang membahagiakan, dan sebagainya. Namun kita ini hidup di dunia nyata yang tidak mungkin terbalikkan. Kita hidup dalam waktu yang linear tanpa ada pengulangan sedikitpun. Dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Maka saya menjadi sangat setuju saat pepatah mengatakan "Manfaatkan waktumu sebaik dan semaksimal kamu bisa, jangan sampai menyesal di kemudian hari". Waktu tak akan pernah berkompromi dan memiliki toleransi ditengah ketidakpastian hidup.
Adakalanya kita menyesali apa yang telah terjadi, namun apakah dengan menyesal saja lantas menyelesaikan masalah ? Tentu tidak....kita harus berusaha mengubah keadaan semampu dan sekuat tenaga agar menjadi lebih baik.
Kita tidak mau terpuruk terus menerus dalam lubang masalah, kita ingin mentas dan tuntas dari semua himpitan hidup....untuk itulah perlunya berdoa kepada yang Maha Pemberi Berkah.
Kita tidak tahu besok mau seperti apa dan bagaimana....hanya bisa berserah diri kepadaNya.
Bagi kita sekarang adalah berbuat sebaik-baiknya kepada lingkungan, berbakti sebaik-baiknya kepada orang tua, dan bermunajat sebaik mungkin agar terkabul doa-doa kita.
Sebab kita hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, kekhilafan, dan kekeliruan. Hanya kepadaMu lah kami menyembah, hanya kepadaMu lah kami mohon pertolongan.

#goresan hati

Kamis, 12 April 2018

Antara Nurani, Etika, dan Realita

Tak mudah memang menjalani kehidupan, banyak riak bahkan ombak yang siap menerjang kapan saja dari arah mana saja. Utamanya saat perahu yang kita tumpangi tidak kokoh bahkan setengah rapuh dimakan waktu.
Begitulah...saat semua menjadi semu, saat semua menjadi abu-abu maka kita akan membandingkan antara nurani dan realita. Banyak nasehat yang mengatakan bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Saya sangat setuju dengan nasehat itu, hanya saja jika kita punya keinginan tidakkah boleh diupayakan sampai titik akhir usaha ? Sebab dengan apa yang kita inginkan (cita-cintakan) maka kita akan berjuang semampu dan sekuat tenaga untuk menggapainya. Permasalahannya sekarang adalah, saat kita berjuang untuk menggapai sesuatu tetapi yang diperjuangkan malah tidak tentu arah tujuan, lalu untuk apa perjuangan itu, bukankah sia-sia saja ? Ohh belum tentu, orang akan mengatakan bahwa kesia-siaan itu akibat dari ulahnya sendiri....oke lah sepakat, masalahnya adalah ketika etika berbicara, nurani mengetuk, dan realita mengatakan lain....lantas kita bisa apa ?
Akhir langkah kita hanya bisa beristighfar, memohon ampunan kepada Allah, memohon sebaik doa agar kita segera di tuntaskan dari segala bentuk himpitan yang namanya "m a s a l a h".
Wait...bukankah Allah sudah berfirman bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, setiap ada masalah ada solusi ? Benar..... lalu ?

S a b a r
I s t i g h f a r
D o a
Berpasrah diri sepenuhnya kepada Allah.

Senin, 21 November 2016

Hargai dan Menghargai

Setiap langkah hidup pastilah tidak semulus dan selancar yang diharapkan. Meskipun demikian kita diharapkan selalu sabar, tawakal, dan selalu berikhtiar untuk mengupayakan agar apa yang di cinta dan citakan dapat tercapai dengan baik.
Seringkali ketika kita sudah berupaya sebaik mungkin, bekerja semaksimal mungkin, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya; namun terkadang ada saja yang memandang bahwa apa yang dilakukan salah, kurang, bahkan tidak baik.
Sebagai seorang yang berusaha berbuat baik, terkadang kita tidak pernah membicarakan aib orang lain. terkadang justru aib kitalah yang diungkit-ungkit oleh orang lain.
Begitulah hidup.
Jika saya selalu salah, apakah anda selalu benar ?

Senin, 31 Oktober 2016

Akhir Bulan Oktober: Suasana Panas Di Komplek

Semilir angin sawah menerpa wajah kami sore itu, tatkala kami bertiga duduk santai sambil menikmati sunset di pinggir sawah, samping gubuk kami. Sesekali nyruput teh anget dan pisang goreng anget suasana seperti ini yang mendekatkan ikatan kami.
Menjelang matahari redup, dari kejauhan tampak bergundi baru plat merah berwarna merah melintas....nampak biasa saja karena di komplek kami memang hilir mudik orang dengan kendaraan. Justru yang mengherankan adalah ketika yang membawanya adalah tetangga kami yang status tempat tinggalnya masih kontraktor.
Sekalipun tidak ada tendensi iri pada diri saya, tapi fenomena seperti ini kerap kali muncul dipemukiman padat penduduk (perumahan.red) dimana persaingan kepemilikan menjadi prioritas. Alih-alih karena kebutuhan (dan itu pasti), namun hal-hal seprti inilah yang kerap menjadikan hidup diperumahan menjadi tidak nyaman. Punya ini, ingin itu dan sebagainya.
Tapi ya sudahlah...rejeki di tangan sang Maha Kaya, jika memang rejekinya pasti tidak akan kemana asal kita mau berupaya, berusaha, dan berdoa.
Yang pasti, jangan panas hati, kuping, mata jika tetangga punya barang baru, tunggangan tidak hanya satu, dan semoga bisa mengangsurnya denagn lancar. sekian.

Harus Mikir Dulu Untuk Buat Status di Media Sosial

Kealaian saya berkurang seiring bertambahnya usia, hehe.... Hal ini saya lakukan semata-mata karena ada media sosial lain, haha sama saja ya.
Bukan begitu maksudnya, di FB saya jarang sekali mengupdate status mungkin boleh dikata sebulan sekali baru memperbaharui status; dan itupun rata-rata sekedar saling mengingatkan tentang hal-hal yang positif. Beberapa waktu lalu, saya mengulas tentang bagaimana menutupi aib, kesalahan, dan keburukan orang lain. Dengan mengutip kata bijak seorang pakar TI bahwa
"Menurut pak XXX, sebuah sistem di komputer bisa jadi ada celah kelemahannya; dari celah ini kemudian dicari dan berusaha untuk diperbaikinya. Maka jika kita menemukan kesalahan oang lain maka mari kita tutupi, diperbaiki bukan malah di sebarluaskan di media sosial"
Menurut saya kalimat itu tidak ada tendensi merendahkan, melemahkan, bahkan fitnah sedikitpun; bahkan saya berupaya mengangkat pak XXX itu sebagai bahan rujukan dari status saya.
Masalahnya adalah, tiba-tiba saja pak XXX yang mungkin hidup kurang tenang ditengah ketercukupan finansial dan nama besarnya tersebut merasa namanya bisa tercoreng karena namanya saya rujuk, sehingga langsung memberitahu saya, bahwa saya bisa kena pasal pencemaran nama baik.

Bak gledekan berjalan disiang hari ditengah anda tidur pulas, ini maksudnya apa ya kok tiba-tiba saya mau dikenakan pasal pencemaran nama baik.....wah, memang akhirnya saya sadari benar bahwa status bisa berakibat tidak baik jika orang yang membacanya tidak paham arti status itu.
Fb adalah milik publik, siapapun bebas menuliskan apapun, tapi jika apa-apa harus berfikir untuk menulis status dengan alasan takut kena pencemaran nama baik....yo wes gak usah nulis status. sekian.