Minggu, 26 April 2026

Mundur Alon-Alon...

Jika hidup itu adalah drama, maka segala drama itu telah usai. Segala upaya dan effort yang kadang tidak masuk akal telah pupus dimakan waktu. Jika kamu tidak mengingatnya ya pastinya begitu karena kamu telah merajut cerita baru. Seadainya waktu bisa dibalikkan, maka sangat berharap tidak akan dekat denganmu, namun inilah hidup yang tidak dapat dihindari jalan dan prosesnya. 
Ternyata tidak semua rindu adalah nyata pun tidak semua rindu akan berakhir dengan bertemunya dua bahu. Mungkin kita adalah pengembara yang tersesat di jalan raya yang keliru, meskipun sudah berbantuan peta sayang, namun tetap saja arahnya akhirnya berbelok. 
Kadang kita terlalu sibuk untuk membangun rumah diatas tanah yang sebenarnya bukan untuk diri kita, mencoba menyatukan dua doa yang muaranya sendiri masih didaerah abu; mencoba memaksakan langkah agar tetap searah padahal kita tahu bahwa yang dijalani sebuah tanpa arah. 

Seperti halnya kadang perjalanan tanpa tujuan, terkadang kita hanya keluar mencari udara segar, melepas penat diatas tugas-tugas yang demikian menyita tenaga...namun masih saja belum menemukan titik kejelasan mau apa dan mau kemana. Hingga akhirnya kuputuskan mudur banyak langkah, bukan karena rasa yang telah sirna, tapi kelelahan tanpa tepi. Aku hanya ingin mengembalikan energi dan mengembalikan arah yang menyimpang terlalu jauh. 

Jika kamu pernah menuliskan pesan kepada seseorang di layar itu "kembalilah, banyak yang ingin kuceritakan kepadamu"; maka dengan tegas kutuliskan pergilah dengan cerita barumu, sedikitpun aku tak akan mengganggumu lagi, meski untuk itu terkadang menyesakkan dada. 

Sebab pada akhirnya, ketenangan diri adalah segalanya. Tak lagi ada pesanmu bukan berarti akhir dari segalanya. Memilih untuk diam dan pergi merupakan langkah jelasku. Mundur alus...

Selasa, 21 April 2026

Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Malam itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani. Di balik kelopak mata yang terpejam, hadir kembali sosok yang pernah begitu berarti. Seseorang yang kusebut kekasih yang dulu mengisi hari-hari dengan tawa, kini hanya tinggal bayangan samar yang kerap muncul dalam mimpi. Seolah nyata, seolah masih ada, meski kenyataannya telah lama pergi.

Rindu itu datang tanpa diundang, menyelinap di sela-sela kesibukan, menyesakkan dada ketika ingatan masa lalu kembali menyeruak. Namun di sisi lain, ia tak pernah peduli. Saat ulang tahun, tak ada ucapan selamat. Saat hari raya, tak ada sapaan hangat. Semua terasa dingin, seakan kehadiran dan kerinduan ini tak pernah berarti baginya.

Seseorang itu terus bergulat dengan bayangan masa lalu. Ada harapan kecil yang masih tersisa, meski logika berkata bahwa semua sudah berakhir. Bayangan seseorang hadir sebagai pengingat, bahwa cinta pernah tumbuh, pernah bersemi, dan pernah memberi arti. Kini yang tersisa hanyalah kenangan yang tak bisa dihapus, meski waktu terus berjalan.

Dan di tengah rasa rindu yang tak terbalas, ia belajar menerima kenyataan: bahwa tidak semua yang dirindukan akan kembali, dan tidak semua yang pernah dekat akan peduli. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri, yang harus kuat berdiri, meski bayangan masa lalu terus menghantui.

Hemm, sudahlah...hidup ini tidak hanya tentang dirinya. Sangat disayangkan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk seseorang yang tidak tahu caranya menghargai. Kepergianku mungkin menjadi tenang bagimu, tapi kupastikan seumur hidupmu tak akan pernah bertemu dengan versi ku di orang manapun. Dan ingat, sakit ini tak akan pernah termaafkan, meski hati tetap harus merelakan.

Minggu, 19 April 2026

Sisa Rindu Itu (Hanya) Kontak Yang Tak Dihapus

Membuka dan scrol kembali semua chat kita adalah kegiatan yang masih sering ku lakukan, kadang tersenyum sendiri mengingat hangatnya pembicaraan kita, intens-nya chat kita tanpa jeda sedikitpun. Bahkan kamu sering bercerita keseharian kegiatanmu meski tanpa aku minta; yang lebih menenangkanku saat kamu tiba-tiba mengirim foto kegiatanmu, aktivitasmu, dan sekedar pamer kerudung baru. Seru dan sangat menenangkan bahwa kamu dan aku ada untuk kita. Itu dulu....
Sekarang ?
Aku tak pernah menghapus namamu dari ponselku
Diantara kontak yang masih dapat ku hubungi
Meski nomor itu tak pernah lagi menuju kemanapun lagi
Kadang aku berhenti lama saat membuat ruang chat itu
Manatap pesan yang rasanya tidak akan pernah dijawab lagi

Aku tak lagi mencarinya
Tak juga berani untuk menghapusnya, karena kehilangan semuanya adalah sakit yang paling jujur
Ada hal kecil yang kita simpan, entah dimana posisinya saat ini
Jujur aku ingin pernah menghapus, tapi seolah ada yang menahan
Bukan karena berharap ingin kamu dapat kembali
Melainkan takut aku akhirnya tidak punya apa-apa lagi darimu

Hingga akhirnya kubiarkan kontak itu terlukis namamu
Kontak yang kadang nampak profilnya kadang tidak
Aku sadar, mungkin suatu saat aku akan membiarkan tanpa menyentuh sedikitpun kontakmu
Hingga saatnya benar-benar merelakan untuk menghapus semua tentangmu
Hingga saatnya melihat foto yang kamu kirim tak lagi menyentuh hatiku
Hingga tak lagi membawa kesan buatku....
Semua hanya masalah waktu.... karena sisa rindu ini hanya ada di kontakmu yang takkan ku hapus.


Rabu, 15 April 2026

Kamu (Bukan) Lagi Rumah Untuk Kembali

"Are you oke ?" pertanyaan bodoh dari untuk orang yang telah menyakiti hati. Sudah jelas jika apa yang dilakukan dan diucapkan itu sangat mengganggu jiwa dan raga masih tega bertanya seperti itu.  

Teh hangat siang ini membawa sebuah penelusuran kenangan masa itu yang barangkali tetap menggetarkan jemari untuk menuliskannya. seolah setiap huruf adalah serpihan hati yang pecah. Aku pernah memperjuangkanmu dengan segala tenaga, menaruh harapan pada janji-janji yang kau bisikkan, namun akhirnya kau memilih pergi, bukan karena lelah, melainkan karena ada orang lain yang kau anggap lebih layak. Wajar memang, tapi asal kamu tahu bahwa setiap kata yang kau kirim lewat chat, setiap kalimat yang kau tinggalkan, terasa seperti pisau yang mengiris perlahan, meninggalkan jejak perih yang tak kunjung sembuh. Jujur aku pernah berharap kau hancur, agar semesta tahu betapa dalam luka yang kau tinggalkan. Namun ironisnya, di sana kau tampak baik-baik saja, berjalan dengan senyum yang dulu pernah aku perjuangkan. Sementara aku .... tertinggal di ruang sunyi, menatap reruntuhan hati yang perlahan kau patahkan. Pulih dari rasa sakit hati bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan proses yang perlahan menumbuhkan kembali keberanian untuk hidup. Luka itu memang pernah mengiris dalam, namun setiap luka juga membawa ruang untuk sembuh; seperti kata-katamu "siapkan ruang kecewa". Awalnya, ada keheningan yang terasa berat, seolah dunia berhenti di titik kehilangan. Tetapi perlahan, keheningan itu bisa menjadi ruang refleksi tempatku belajar menerima bahwa tidak semua yang diperjuangkan akan bertahan.

Sembuh berarti memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti menggenggam masa lalu yang menyakitkan. Biarkan kenangan itu menjadi bagian dari cerita, bukan beban yang terus harus dipikul. Pulih berarti menemukan kembali hal-hal kecil yang membuat hati bahagia: melihat senyum orang-orang yang tulus, orang baru dengan cerita barunya, udara pagi yang segar, atau doa yang menenangkan. Setiap langkah kecil menuju kebahagiaan adalah tanda bahwa luka mulai berubah menjadi kekuatan. Aku sadar, orang baru tidak akan otomatis menyembukan luka, tapi menjadi rumah kembali bagi dia merupakan kebahagiaan tersendiri buatku.

Rasa sakit memang pernah membuatku runtuh, tetapi kucoba tumbuhkan keberanian baru untuk melangkah. Pulih bukan berarti melupakan, melainkan berdamai dengan apa yang terjadi (lagunya siapa ini lah hemm...). Saat mampu menatap luka tanpa lagi merasa terhancur, saat bisa menatap statusmu, fotomu, dan pertemuanmu dengan orang baru aku abai, itulah mungkin tanda bahwa hatiku sedang belajar sembuh. Dan pada akhirnya, aku menyadari: meski dia baik-baik saja di sana, aku pun harus bisa baik-baik saja di sini, mencoba merajut versi diri yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih berani mencintai hidup.

Rabu, 04 Februari 2026

Kehilangan yang tidak ku pilih

 Aku pernah marah dan tidak menerima pada kehilangan yang datang tanpa mengetuk dan mengambil sesuatu yang belum ingin kulepas. Tapi waktu dengan sabarnya mengajariku cara menerima, cara menghargai diri sendiri, dan menyadarkan akan ketidak tulusan seseorang. Waktu membimbing bahwa tidak semua pelepasan adalah musuh. Beberapa justru mengajarkan kita menuju tempat yang lapang yaitu tenang. Jalan yang mungkin selama ini hilang karena memperjuangkan orang yang tidak bisa menghargai. Sekarang aku menjalani hariku tanpa menyalahkan keadaan, aku hanya perlu menyelaraskan langkah dengan apa yang harus dijalani dan terjadi. Asinglah selamanya, seperti chat terakhirmu bahwa kamu tidak ada kaitan apapun, hanya karena ada orang baru. Larilah sesukamu, meski tak akan pernah kuikhlaskan untaian kata yang senantiasa menyakiti hatiku. Aku memang berdamai tapi untuk diriku sendiri, bukan kamu.