Alkisah pagi ini saya mempersiapkan diri untuk mengantar buah hati ke sekolah; alih-alih menjadi warga negara yang taat hukum terutama lalu lintas semua kelengkapan dan administrasi perjalanan saya cek dan siapkan, mulai dari kantong celana jangan sampai kosong, kantong baju jangan sampai bolong, dan sim serta stnk jangan sampai ketinggalan di atas galon.
Singkat cerita, jam 08.00 saya melaju ke unit pelayanan SIM karena bulan depan SIM saya merayakan ulang tahunnya sehingga harus diperbaharui. Alur kepengurusan yang sudah saya pahami dengan baik dan benar membawa saya ke tes kesehatan. Dipandu oleh 2 dokter muda yang cantik tapi cukup gendut itu diperiksa mata, ketinggian, massa tubuh, dan tensi. Disela pemeriksanaan si embak tadi bertanya kerja dimana, sebagai apa, dan apa yang bisa di bantu. Sekilas pertanyaan itu sederhana, tapi kata "apa yang bisa dibantu" membuat ambigu karena saat itu dirinya sudah membantu pemeriksaan kesehatan...apakah ini "kata rahasia" untuk sebuah jalur tikus agar pengurusan SIM lebih cepat melalui jasa calo....entahlah... Nah di unit ini biaya administrasi 40 ribu, tanpa kuitansi. Dan saya bayar tanpa masalah...alhamdulillah punya duit.
Lanjut ke unit SIMnya, begitu parkit pak sekuriti sepeda motor (juru parkir) langsung mengarahkan ke pos....dengan langkah pasti dan digagah-gagahkan saya hampiri 3 pak polisi yang sedang piket... "Selamat siang, adaya yang bisa dibantu ?" (pertanyaan serupa dengan embak tadi). "Saya mau perpanjang SIM pak pol", "Oh ya, boleh lihat berkasnya".....beberapa saat pak polisi membolak-balik berkas tanpa komentar. "Silakan ke bagian pendaftaran.." saya jawab "Nggih pak, matur nuwun".
Sekali lagi tidak ada masalah di segmen ini, tapi tampak penggirangan ke pos dan diperiksa oleh pak polisi ini menunjukkan kehati-hatian unit SIM...siapa tahu Pak Gubernur yang menyamar dan sidak langsung...hahaha.
Ketika mendaftar diberikan nomor antrian seperti tanda peserta seminar. Ketika foto ada yang membuat 2 sim sekaligus A dan C dan yang emejing, anak itu tidak menggunakan tanda antrian....what's going on ?? apakah anak ini pakai jalur tikus....entahlah...
Singkat cerita pelayanan cepat dan mudah saya temui kali ini, berbeda dengan bulan ketiga waktu membuat sim baru lebih belibet dan lamaaa.
Kinerja seperti ini yang sejatinya harus dilakukan pelayanan publik sejak dulu. Salut untuk pak polisi SIM dan jajarannya semoga tetap bertahan seperti itu.
Eniwai, apakah ada pungli ?? Tidak ada, biaya SIM sebesar 75 ribu (dengan bukti pembayaran) langsung dibayarkan di kasir Bank, menuju pembayaran, foto SIM, dan pengambilan SIM diberikan kupon PMI sebesar 5ribu (seperti jaman sd sampai sma juga spt itu).
Jadi untuk perpanjangan sim habis 75 ribu + 40 ribu + 5ribu = 120 ribu.
Posting ini tidak bermaksud apa-apa, tidak melaporkan, juga tidak mencium indikasi pungli. Jika pun ada yang melalui jalur tikus, biarkan oknum tsb yang tau...saya tidak perlu tahu karena saya ingin menjadi warga negara yang berbudaya baik, santun, dan taat aturan.
Selamat untuk pelayanan sim kali ini...saya puas dan berani kasih jempol
“Ngopi Bareng Pikiran adalah ruang sederhana untuk berbagi cerita sehari-hari, curhat ringan, dan refleksi hidup. Layaknya secangkir kopi yang menemani obrolan, setiap tulisan di sini berisi potongan pengalaman, renungan, dan rasa yang ingin dibagikan. Tempat di mana pikiran bebas dituangkan, rindu ditulis, dan kenangan direkam agar tak hilang begitu saja.”
Senin, 24 Oktober 2016
Negara Drama: Antara Popularitas, Penistaan, dan Realita
Masyarakat awam setiap hari dijejali berita-berita di TV, yang saya sendiri tidak mengerti kebenaran dan keabsahaannya. Namun jika menilik dari sebuah berita serupa di saluran youtube.com berita itu kadang menjadi benar atau setidaknya dianggap benar. Jadi saat ini youtube digunakan sebagai pembenaran berita di TV (hemm...bisa jadi TV bsk tidak laku karena lebih valid berita di youtube, entahlah).
Eniway, kasus lama yang bersemi kembali milik pak super mario teguh sejatinya tidak penting untuk dibahas, bahkan sangat tidak perlu diberitakan. Mengapa ?. Karena pak super ini sudah populer baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Membicarakan masa lalunya apa lagi, jika memang pak super ini bersalah, berselingkuh, tidak mengakui si kis sebagai anak, dan kdrt...lalu apa pedulinya? toh itu urusan keluarganya sendiri. Anda mencaci maki, anda berang seperti berang-berang mau kawin, bahkan anda pendukung tulen pak super...njuk apa untungnya ?
Ketika anda caci maki, pak super asik mesra dengan ibu lina yang super setia itu, anda mendukung sampai semaput, pak super sedang hepi-hepi di luar negeri dengan kapal pesiar mewahnya.
Mencari popularitas, ah tentu saja tidak karena pak super sudah populer; mencari rating, ahh buat apa lagi rating nya sudah diatas level bebek angsa....
Kesimpulannya: jangan lagi bahas pak super, mas dedi korbuser fokus saja di acaranya, jika ingin mengangat si kis jadi anak atau ibunya jadi terangkat, jadikan artis. selesai urusannya. :D
Muncul lagi bang ahok dengan gaya kepemimpinannya dan bicaranya. Sebagai muslim saya turut tersinggung; tapi saya ini yang rakjat jelata bisa apa ? Pak ahok punya beragam cara untuk berkilah, punya beragam serdadu untuk balik menyerang....
Meski sejatinya saya ini memuji pak ahok dengan ketegasannya, tapi sefanatik-fanatiknya saya tidak akan pilih pak ahok. ya saya tidak akan pilih pak ahok. titik.:D (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)
Barulah muncul sang pangeran yang saya turut kagum akan kecemerlangannya, pak Agus. Sangat disayangkan mundur dari TNI padahal kenaikan pangkatnya melebihi rekan selating di AKMIL. Tapi ya itu, karena negera drama apapun bisa terjadi. Sefanatik2nya saya: saya tidak akan pilih pak Agus. titik tidak koma-koma. :D (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)
Negara drama penuh intrik dan strategi, yang kuat berkuasa, yang kalah bersuara. Yang jelas jangan memaki ulama bisa kualat. Salam, Laos, KUnyit...
Eniway, kasus lama yang bersemi kembali milik pak super mario teguh sejatinya tidak penting untuk dibahas, bahkan sangat tidak perlu diberitakan. Mengapa ?. Karena pak super ini sudah populer baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Membicarakan masa lalunya apa lagi, jika memang pak super ini bersalah, berselingkuh, tidak mengakui si kis sebagai anak, dan kdrt...lalu apa pedulinya? toh itu urusan keluarganya sendiri. Anda mencaci maki, anda berang seperti berang-berang mau kawin, bahkan anda pendukung tulen pak super...njuk apa untungnya ?
Ketika anda caci maki, pak super asik mesra dengan ibu lina yang super setia itu, anda mendukung sampai semaput, pak super sedang hepi-hepi di luar negeri dengan kapal pesiar mewahnya.
Mencari popularitas, ah tentu saja tidak karena pak super sudah populer; mencari rating, ahh buat apa lagi rating nya sudah diatas level bebek angsa....
Kesimpulannya: jangan lagi bahas pak super, mas dedi korbuser fokus saja di acaranya, jika ingin mengangat si kis jadi anak atau ibunya jadi terangkat, jadikan artis. selesai urusannya. :D
Muncul lagi bang ahok dengan gaya kepemimpinannya dan bicaranya. Sebagai muslim saya turut tersinggung; tapi saya ini yang rakjat jelata bisa apa ? Pak ahok punya beragam cara untuk berkilah, punya beragam serdadu untuk balik menyerang....
Meski sejatinya saya ini memuji pak ahok dengan ketegasannya, tapi sefanatik-fanatiknya saya tidak akan pilih pak ahok. ya saya tidak akan pilih pak ahok. titik.:D (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)
Barulah muncul sang pangeran yang saya turut kagum akan kecemerlangannya, pak Agus. Sangat disayangkan mundur dari TNI padahal kenaikan pangkatnya melebihi rekan selating di AKMIL. Tapi ya itu, karena negera drama apapun bisa terjadi. Sefanatik2nya saya: saya tidak akan pilih pak Agus. titik tidak koma-koma. :D (biar tidak dikira warga negara frontal saya jelaskan, saya tidak punya hak pilih di dki...haha)
Negara drama penuh intrik dan strategi, yang kuat berkuasa, yang kalah bersuara. Yang jelas jangan memaki ulama bisa kualat. Salam, Laos, KUnyit...
Selasa, 11 Oktober 2016
Cinta dan Mencintai
Jika kita menyukai sesuatu entah itu orang lain atau benda tertentu; secara tidak sadar akan terkenang terus dalam ingatan, tak luput dalam bayangan, dan tak lepas dari impian. Namun kesemua bisa menjadi nyata jika kita mau dan mampu mewujudkan memilikinya meski dengan upaya yang tidak mudah.
Untuk itu, ikhitar dan doa terkadang harus kita genjot frekuensinya agar memperoleh petunjuk, jalan, dan kemampuan yang terkadang diluar kemampuan kita untuk memfikirkannya.
So, mari kita wujudkan mimpi kita agar tercapai. Apa keinginanmu saat ini ?
Untuk itu, ikhitar dan doa terkadang harus kita genjot frekuensinya agar memperoleh petunjuk, jalan, dan kemampuan yang terkadang diluar kemampuan kita untuk memfikirkannya.
So, mari kita wujudkan mimpi kita agar tercapai. Apa keinginanmu saat ini ?
Selasa, 28 April 2015
Menyerah Untuk Bahagia atau Ikhlas Untuk Merana
Judul yang mungkin membuat orang bertanya, ini admin lagi galau, lagi seneng, atau lagi sedih ? Haa.... pengen nulis aja sih sebenarnya karena kehidupan yang semakin sulit ini menuntut untuk selalu berpikir, berpikir, dan terus berpikir. Jika tidak mau berpikir yah tidur aja atau jadi seorang boss (boss juga berpikir kali yah...).
Ok sob, maksud judul di atas sebenarnya pengen menggambarkan betapa seseorang dengan kehidupan yang serba pas-pasan ini mengalami dilematis yang luar biasa. Punya uang sedikit sudah membuat hati seneng, tenang, dan bahagia, tapi ya bahagianya juga cuma sedikit karena uang tadi untuk membayar ini itu, melunasi hutang itu dan ini. So...jika sudah menyerah akan keadaan berarti seseorang menyerah untuk bahagia. Sebab kebahagiaan itu dicari bukan datang dengan sendirinya.
Bagi orang dari GOLEKLEMAH makan tahu-tempe adalah makanan setiap hari, tambah kecap merupakan nikmat tersebdiri, makan dengan sambel bawang merupakan anugerah tersendiri, dan menikmati sayur kangkung selalu disyukuri. Lalu dimana kebahagiaan itu ? Kebahagiaan lahir karena hati yang puas, hati yang tenang, dan hati yang bersyukur.
lalu....menyerah untuk bahagia artinya menerima kenyataan yang ada....
Iklas untuk merana artinya apapun yang terjadi ya terjadilah karena itu semua memang kehendak yang punya hidup, jalan yang harus ditempuh, dan takdir yang sudah berlaku. Permasalahannya siapa yang mau merana ? tentu tidak ada !
Yang ada berusaha untuk bahagia. Nah, upaya inilah yang kemudian dapat menjebak "sebagian" dari kita menjadi merana. Sudah kerja enak, gaji lumayan, masih belum puas akan hasil yang dicapai tersebut, sehingga kehidupannya cenderung merana, merasa kurang, dan akhirnya mencari pelampiasan. Nah, jika sudah begitu siapa yang salah?
Tidak ada yang salah, yang bermasalah adalah pilihan anda sendiri: Memilih Menyerah untuk Bahagia dengan bersyukur, atau Ikhlas untuk Merana dengan menyesali apa yang ada.
Nb. perlu mikir abot untuk memahami tulisan di atas. Hehe....Salam Kupat Tahu
Ok sob, maksud judul di atas sebenarnya pengen menggambarkan betapa seseorang dengan kehidupan yang serba pas-pasan ini mengalami dilematis yang luar biasa. Punya uang sedikit sudah membuat hati seneng, tenang, dan bahagia, tapi ya bahagianya juga cuma sedikit karena uang tadi untuk membayar ini itu, melunasi hutang itu dan ini. So...jika sudah menyerah akan keadaan berarti seseorang menyerah untuk bahagia. Sebab kebahagiaan itu dicari bukan datang dengan sendirinya.
Bagi orang dari GOLEKLEMAH makan tahu-tempe adalah makanan setiap hari, tambah kecap merupakan nikmat tersebdiri, makan dengan sambel bawang merupakan anugerah tersendiri, dan menikmati sayur kangkung selalu disyukuri. Lalu dimana kebahagiaan itu ? Kebahagiaan lahir karena hati yang puas, hati yang tenang, dan hati yang bersyukur.
lalu....menyerah untuk bahagia artinya menerima kenyataan yang ada....
Iklas untuk merana artinya apapun yang terjadi ya terjadilah karena itu semua memang kehendak yang punya hidup, jalan yang harus ditempuh, dan takdir yang sudah berlaku. Permasalahannya siapa yang mau merana ? tentu tidak ada !
Yang ada berusaha untuk bahagia. Nah, upaya inilah yang kemudian dapat menjebak "sebagian" dari kita menjadi merana. Sudah kerja enak, gaji lumayan, masih belum puas akan hasil yang dicapai tersebut, sehingga kehidupannya cenderung merana, merasa kurang, dan akhirnya mencari pelampiasan. Nah, jika sudah begitu siapa yang salah?
Tidak ada yang salah, yang bermasalah adalah pilihan anda sendiri: Memilih Menyerah untuk Bahagia dengan bersyukur, atau Ikhlas untuk Merana dengan menyesali apa yang ada.
Nb. perlu mikir abot untuk memahami tulisan di atas. Hehe....Salam Kupat Tahu
Jumat, 24 April 2015
Media Pembelajaran : Antara Kemauan dan Kemudahan
Sebagai seorang pebelajar entah itu menjadi seorang guru, tentor, tutor, atau peserta didik menginginkan setiap ilmu baru yang diperoleh dalam pembelajaran dapat diterima dengan baik.
Seorang guru tentu mendambakan apa yang disampaikan di kelas dapat diserap sepenuhnya oleh peserta didik di kelasnya tanpa terkecuali. Namun, kenyataan tidak seindah keinginan....sebagian besar peserta didik datang ke sekolah hanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang anak yang masih berada di usia sekolah, daripada di rumah harus bekerja, harus membantu orang tua, menganggur, dan segudang alasan lainnya. Fenomena ini kerap kali menjadi kendala tersendiri bagi guru untuk menggapai keinginan agar materi terserap seluruhnya.
Menurut beberapa penelitian, peserta didik hanya dapat menyerap sekitar 20% materi ajar dari seorang guru di kelas, selebihnya dianggap angin lalu. Kasus lain, peserta didik dapat secara optimal menerima pelajaran pada 20 menit pertama, sdangkan sisanya diikuti dengan keterpaksaan saja.
Fakta memang, mengajar tidak sindah harapan, belajarpun tidak seindah membalikkan telapak tangan.
Untuk itu, guru dengan sega daya dan upayanya menciptakan metode pembelajaran, menggunakan berbagai model pembelajaran agar peserta didiknya mengerti, memahami, dan menguasai bahan ajarnya. Salah satunya memanfaatkan media pembelajaran.
Namun, apakah menggunakan media pembelajaran secara otomatis membuat peserta didik lantas mengerti apa yang disampaikan ? Tentu saja tidak, sebab media hanya sebagai bagian kecil dari hal yang menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
Faktor lain, keengaanan guru dalam merancang media membuat pembelajaran menjadi monoton, statis, dan sebatas teoretis. Waktu dan kemampuanlah yang menjadikann hal tersebut berlangsung secara terus menerus.
Lalu salah siapa dan mau di bawa kemana pendidikan kita ???
Yuk kita diskusikan bersama....
Salam,
Seorang guru tentu mendambakan apa yang disampaikan di kelas dapat diserap sepenuhnya oleh peserta didik di kelasnya tanpa terkecuali. Namun, kenyataan tidak seindah keinginan....sebagian besar peserta didik datang ke sekolah hanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang anak yang masih berada di usia sekolah, daripada di rumah harus bekerja, harus membantu orang tua, menganggur, dan segudang alasan lainnya. Fenomena ini kerap kali menjadi kendala tersendiri bagi guru untuk menggapai keinginan agar materi terserap seluruhnya.
Menurut beberapa penelitian, peserta didik hanya dapat menyerap sekitar 20% materi ajar dari seorang guru di kelas, selebihnya dianggap angin lalu. Kasus lain, peserta didik dapat secara optimal menerima pelajaran pada 20 menit pertama, sdangkan sisanya diikuti dengan keterpaksaan saja.
Fakta memang, mengajar tidak sindah harapan, belajarpun tidak seindah membalikkan telapak tangan.
Untuk itu, guru dengan sega daya dan upayanya menciptakan metode pembelajaran, menggunakan berbagai model pembelajaran agar peserta didiknya mengerti, memahami, dan menguasai bahan ajarnya. Salah satunya memanfaatkan media pembelajaran.
Namun, apakah menggunakan media pembelajaran secara otomatis membuat peserta didik lantas mengerti apa yang disampaikan ? Tentu saja tidak, sebab media hanya sebagai bagian kecil dari hal yang menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
Faktor lain, keengaanan guru dalam merancang media membuat pembelajaran menjadi monoton, statis, dan sebatas teoretis. Waktu dan kemampuanlah yang menjadikann hal tersebut berlangsung secara terus menerus.
Lalu salah siapa dan mau di bawa kemana pendidikan kita ???
Yuk kita diskusikan bersama....
Salam,
Label:
media pembelajaran,
pendidikan kita,
Sains,
sosial
Senin, 20 April 2015
Kita Hidup di Dunia Nyata
Acapkali kita menginginkan sesuatu entah itu barang maupun non barang yang dapat memuaskan keinginan bathin kita. Melihat fenomena gedget yang baru tentu semua orang ingin memilikinya sebagai bentuk prestise, kebanggaan, dan kepuasan diri.
Melihat rekan sekantor sukses dalam karir, rumah tangga, dan keluarga, tentu kita menjadi iri karena (sebagian) dan terkadang dari kita tidak dapat seperti itu. Ya, inilah dunia NYATA.
Keinginan, harapan, dan cita-cita hemat saya semua manusia sama yaitu menggapai kebahagiaan yang dapat diperoleh melalui bermacan cara.
Semua ingin ideal: istri cantik molek nan aduhaii, uang yang melimpah berkecukupan, anak-anak yang sehat dan pintar, kendaraan memadahi, fasilitas dan perabotan lengkap, dan rumah tinggal bak istana Yuni Shara atau Rafi Ahmad...namun pupus lamunan itu ketika melihat kenyataan....
Ya, kita hidup di dunia nyata bukan di dunia ideal.
Apa yang harus dilakukan ? cukup melamun saja, atau segera turun tangan singsingkan lengan baju untuk menggali potensi dan sumber daya yang melimpah (yang) sejatinya telah disediakan Tuhan untuk kita.
Permasalahannya adalah: dimana dan dengan apa menggalinya ?? Itulah dunia nyata, tak seindah impian.
Salam Mimpi
Melihat rekan sekantor sukses dalam karir, rumah tangga, dan keluarga, tentu kita menjadi iri karena (sebagian) dan terkadang dari kita tidak dapat seperti itu. Ya, inilah dunia NYATA.
Keinginan, harapan, dan cita-cita hemat saya semua manusia sama yaitu menggapai kebahagiaan yang dapat diperoleh melalui bermacan cara.
Semua ingin ideal: istri cantik molek nan aduhaii, uang yang melimpah berkecukupan, anak-anak yang sehat dan pintar, kendaraan memadahi, fasilitas dan perabotan lengkap, dan rumah tinggal bak istana Yuni Shara atau Rafi Ahmad...namun pupus lamunan itu ketika melihat kenyataan....
Ya, kita hidup di dunia nyata bukan di dunia ideal.
Apa yang harus dilakukan ? cukup melamun saja, atau segera turun tangan singsingkan lengan baju untuk menggali potensi dan sumber daya yang melimpah (yang) sejatinya telah disediakan Tuhan untuk kita.
Permasalahannya adalah: dimana dan dengan apa menggalinya ?? Itulah dunia nyata, tak seindah impian.
Salam Mimpi
Minggu, 01 Maret 2015
Bagaimanakah Menjual yang Marketable
Seni menjual memang penting dimiliki bagi siapapun yang hendak menggeluti usaha perdagangan, entah dengan cara tradisional (man to man) atau melalui internet marketing. Saya sebagai seorang yang awam ingin sekali mengetahui bagaimana memulai usaha. Saat ini saya berpikir ingin usaha untuk publishing buku-buku yang saya tulis sendiri maupun yang ditulis orang. Pengalaman saya masih nol, Mungkin ada rekan yang berkenan berbagi informasi tentang seluk beluk publisihing buku, pengajuan ISBN, dan sebagainya, mohon sharing ilmunya. Makasih.
Langganan:
Postingan (Atom)