Kamis, 24 April 2025

Analogi Dalam Pembelajaran Fisika

Kata analogi sebenarnya identik dengan perumpamaan. Analogi langsung merupakan salah satu strategi pembelajaran yang digunakan untuk menjelaskan konsep abstrak dalam fisika dengan memanfaatkan kesamaan atau kemiripan antara suatu konsep fisika dengan situasi yang lebih familiar bagi siswa. Strategi ini memungkinkan siswa untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dengan menghubungkan konsep baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya (Kurniawan et al, 2024). Dalam fisika, analogi langsung sangat bermanfaat karena banyak konsep yang sulit divisualisasikan atau dirasakan secara langsung. 
Salah satu model pembelajaran yang saya kembangkan sebagai tugas akhir studi adalah pengembangan model Sinektik berorientasi HOTS yang didalamnya memuat unsur-unsur Sinektik salah satunya adalah analogi langsung. 
Mengapa Analogi penting ? Pertama adalah mempermudah pemahaman: dengan menghubungkan konsep fisika yang abstrak ke situasi yang lebih konkret, siswa dapat memahami prinsip-prinsip fisika secara lebih mudah. Kedua, meningkatkan minat dan motivasi; melalui analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan relevan bagi siswa. Ketiga yaitu mendorong berpikir kritis. Siswa dilatih untuk mencari hubungan antara konsep fisika dan analoginya, yang dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis mereka.

Contoh Analogi Langsung dalam Pembelajaran Fisika misalnya pada Konsep Hukum Newton Pertama (Inersia): Penjelasan Konsep: Benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan terus bergerak dalam garis lurus kecuali ada gaya yang bekerja padanya. Analoginya siswa diminta membayangkan sebuah meja makan yang penuh dengan barang. Jika taplak meja ditarik dengan cepat, barang-barang di atas meja tetap di tempatnya. Barang-barang tersebut cenderung mempertahankan keadaan diamnya karena sifat inersia. Contoh analogi pada konsep gerak harmonik sederhana pada gerak benda bolak-balik melalui titik keseimbangan dengan pola yang berulang. Analoginya pergerakan ayunan taman merupakan analogi langsung untuk memahami gerak harmonik sederhana. ayunan bergerak dari satu sisi ke sisi lain dengan pola yang berulang dan selalu melalui titik tengah (keseimbangan). Berdasarkan kajian (Kurniawan, 2024) analogi perlu disampaikan kepada peserta didik untuk ragam materi. Contoh lainnya pada konsep arus listrik, penjelasan konsepnya bahwa arus listrik adalah aliran muatan melalui konduktor. Analogi yang dapat disampaikan yaitu arus listrik dapat dianalogikan dengan aliran air di pipa. Sama seperti air yang mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke rendah, elektron juga mengalir dari daerah berpotensial tinggi ke rendah. Pada konsep Tekanan siswa dapat diberikan konsep bahwa tekanan adalah gaya per satuan luas. Analogi yang dapat diberikan yaitu tekanan dapat dianalogikan dengan ujung jarum dan telapak tangan. Ujung jarum memberikan tekanan tinggi pada kulit karena luas permukaannya kecil, sementara telapak tangan tidak terasa menekan karena luas permukaannya besar.

Apa Keuntungan Penggunaan Analogi Langsung ?
Dengan menggunakan analogi langsung, siswa dapat menghubungkan pembelajaran fisika dengan pengalaman mereka sehari-hari. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami konsep dengan cara yang lebih praktis dan menarik. Selain itu, analogi langsung dapat membantu siswa mengurangi kesulitan dalam memahami konsep abstrak dan memberikan konteks nyata dalam pembelajaran. Namun, penting untuk memastikan bahwa analogi yang digunakan tidak menimbulkan miskonsepsi. Analoginya harus disertai dengan penjelasan yang jelas mengenai kesamaan dan perbedaan antara konsep fisika dengan analogi yang digunakan.

Kesimpulan

Analogi langsung adalah salah satu strategi efektif dalam pembelajaran fisika yang dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dengan cara yang sederhana dan relevan. Dengan memilih analogi yang tepat dan familiar bagi siswa, guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan membuat fisika lebih menarik bagi siswa.

Referensi:
Kurniawan, E. S., Mundilarto, E. I., & Istiyono, E. (2024). Improving student higher order thinking skills using Synectic-HOTS-oriented learning model. Int J Eval & Res Educ ISSN2252(8822), 1133.

Kurniawan, E. S. (2023). Strategi Jembatan Konsep Analogi Untuk Meningkatkan PhyHOTS Peserta Didik Pada Pembelajaran Fisika. Jurnal Inovasi Pendidikan Sains (JIPS)4(1), 26-35.

Kamis, 27 Februari 2025

Guru atau Konten Kreator ?

Sebagai tenaga kependidikan tentu memiliki cita-cita mulia untuk memajukan dan mencerdaskan peserta didik secara kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Segala upaya dilakukan untuk menyajikan pembelajaran yang disajikan tersebut dapat diserap dan diterima dengan baik. Guru bagaimanapun latar belakangnya pastilah memiliki "modal" awal berupa pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman akademik maupun pengalaman sehari-hari. Terlepas dari kemampuan akademik dasarnya, seorang guru yang memang dituntut dan dilatih untuk mengajar (menguasai materi dan menguasai kelas), pastilah memiliki ragam cara untuk membelajarkan peserta didiknya. Dari penggunaan metode, model, strategi, dan dengan memperhatikan gaya belajarnya, tujuan akhirnya yaitu agar peserta didiknya paham dan mengerti akan ilmu yang disampaikannya. 
Alih-alih menyenangkan peserta didik, maka ada sebagian guru yang justru membawa kelas tidak fokus pada tujuan awalnya yaitu belajar. Di kelas ada guru yang memberikan film yang tidak berkaitan dengan materi dan diputar menggunakan LCD dan Screen di depan kelas. Ada sebagian guru yang hanya memberikan pengantar di awal pelajaran sekitar 10 menit, kemudian diminta mengerjakan soal-soal di LKS sementara gurunya bersantai di ruang guru atau malah ada yang di kantin menikmati sebat. 
Bahkan, akhir-akhir ini guru-guru muda yang memiliki paras menawan cenderung membuat video di kelas, berjoged-joged ala standar aplikasi tik-tok, dan sebagainya.  Memang, bagi sebagian orang bisa menginspirasi, namun tiadakah guru yang menawan tersebut justru membuat konten yang positif, yang membangun, dan tidak sekedar "pamer" kecantikan dan kemolekannya ?
Justru dengan adanya kesibukan baru guru "konten kreator" ini malah tidak fokus pada tugas pokoknya, sampai-sampai diberita ada wakil kepala sekolah bidang kurikulum lupa dan terlewat mendaftarkan siswanya ikut seleksi masuk perguruan tinggi. 
Ironi memang, disaat guru dimudahkan dengan media namun terjerumus pada arus standar postingan kreatornya. Guru yang notabene memberikan pelajaran justru sibuk editing video untuk setoran postingan agar FYP. 
Jika sudah begini, tentu tidak bisa disalahkan si guru tersebut karena media sosial itu milik siapa saja, hanya saja perlu ada kontrol sosial dari pihak sekolah dan instansi terkait tentang penggunaan media sosial di sekolah. 
Jika postingan membawa kebaikan sekolah tentu tidak masalah, namun jika justru membawa dampak kurang baik tentu perlu adanya pembinaan. 
Jadi, mau jadi guru atau konten kreator ?

Minggu, 17 November 2024

Belajar Menghargai Meski Hal yang Kecil dan Sederhana

Terkadang kita hidup berdampingan dengan orang lain tidak akan lepas dari bantuan, pertolongan, atau niat baik seseorang. Disadari atau tidak, orang yang sayang akan memberikan yang terbaik bagi orang tersayangnya, pun sebaliknya.  Meskipun kadang tidak ada ikatan rasa/ perasaan terkadang ketika kita beranjangsana/ menemui seseorang ada itikat baik untuk membawa buah tangan. Nah, kadang bagi orang yang tidak peka dan kurang bisa menghargai niat orang lain menganggap buah tangan tersebut tidak perlu/ diperlukan, karena selain jenis barang buah tangannya tersebut, harganya kadang masih terjangkau untuk dibeli sendiri. 
Nah, disini kosepnya adalah menghargai ketulusan seseorang ketika berniat baik tersebut. Jangan dilihat dari berapa besar nominalnya dan jenis barangnya; namun ketulusan dan itikat baiknya. Untuk itu, terbukalah untuk menerima dengan lapang dada, dengan penuh kesyukuran, dan minimal ucapan terima kasih. Sebab bisa jadi itulah jalan rejekimu atau jalan rejeki si pemberi dengan harapan Tuhan memberikan gantinya yang lebih baik dan lebih banyak. 
Jangan alih-alih karena tidak suka, tidak berkenan, atau hanya "barang seperti itu aku juga mampu beli" kemudian tidak berterima kasih dan menghargainya. Kalaupun tidak suka dengan pemberiannya cukup simpan dalam hati dan berikan barang itu pada orang yang membutuhkannya. 
Itulah bentuk penghargaan, jangan lukai hati si pemberi dengan berucap, besok lagi jangan belikan apa-apa. Ya Allah, tega ya ada hati yang mampu berucap seperti itu. 
Ingat ya, kita hidup membutuhkan orang lain, sekaya apapun, sesukses apapun, dan semampu apapun ada peran orang lain dalam kehidupan kita. Hargailah sesorang yang tulus memberimu, sebelum orang tersebut sudah tidak lagi peduli padamu. 
Ingat ini untuk pembelajaran saya dan kita semua; budayakan: tolong, maaf, dan terima kasih. 
Semoga menginspirasi.

Senin, 20 Mei 2024

Study Tour di Sekolah, Masih Perlukah ?

Saat ini tengah ramai diperbincangkan tentang kebijakan dan larangan mengadakan study tour di sekolah. Terkait insiden dibeberapa daerah yang menyebabkan korban di jalan raya memang meninggalkan duka sekaligus empati bagi korban dan keluarganya. Semoga tidak ada kejadian demikian di tahun-tahun selanjutnya. 
Meskupun hal tersebut tidak diharapkan, namun kebijakan pengadaan study tour tidak terlepas dari persiapan dan kebijakan dari masing-masing sekolah. Adanya study + tour ini menjadi sebuah hal yang lumrah dilaksanakan oleh sekolah dari tahun ke tahun, dengan lokasi yang sama atau bertambah jauh seiring biaya yang harus diiur oleh orang tua siswa. Disadari atau tidak, keinginan study + tour ini tetap diinginkan oleh siswa, kesempatan bisa bermain bersama dengan rekan-rekan satu kelas dan bapak ibu guru menjadi kenangan tersendiri kelak dikemudian hari. Alih-alih ingin menyenangkan putra-putrinya orang tua dengan beragam pertimbangan tentu ingin memenuhinya dengan membayar biaya yang juga relatif tidak sedikit. 
Permasalahan muncul disaat ada accident, sehingga yang disalahkan adalah gurunya. Mohon maaf, sebagai orang yang pernah jadi guru disekolah, tidak tepat rasanya jika menyalahkan kebijakan study tour ini sepenuhnya kepada guru. Guru hanya pelaksana teknis mendampingi siswa, pun tidak semua guru biasanya diikutkan karena alasan tertentu. Kebijakan adanya study tour biasanya muncul dari usulan siswa, kemudian sekolah mengakomodir dengan memberikan edaran/ angket/ formulir terkait study tour tersebut. Jika persentase yang menyetujui lebih banyak, maka dilaksanakan sesuai kesepakatan bersama. Untuk itu, mengapa ada statement yang menyalahkan Guru ?

Untuk amannya sebenarnya dari teknik penyelenggaraannya saja, misalnya study tour ke lokasi yang dekat dengan sekolah, tidak perlu ke luar kota apalagi hingga luar pulau. Maksimalkan potensi study-nya dibandingkan tournya. Berikutnya adalah pemilihan armada yang sehat dan terpercaya, sehingga perjalanan akan aman dan nyaman untuk semua pihak. Bis wisata jika dipilih yang masih prima, sopir yang elegan yang tidak kebut-kebutan tentu akan menjadi salah satu indikator kenyamanan dalam wisata. 

Wacana pelarangan study tour tentu berimbas pada banyak aspek, dari sepinya obyek wisata hingga hilangnya momen kebersamaan siswa, sehingga saya beropini jika wisata + study ini tidak perlu dilarang namun diatur teknis pelaksanaannya saja, agar hal-hal yang sekiranya membahayakan dapat diantisipasi sejak awal. 
Selamat berwisata + studi. Semangat untuk bapak/ ibu guru pendamping. 

Rabu, 21 Oktober 2020

Cara Download di Academia.edu, Scribd, dan Slideshare

Selamat siang sobat ambyar, apakah saat ini masih ambyar gara-gara artikelnya belum ada kejelasan/ direject ? Tetap semangat, perbaiki, dan submit lagi. 
Mari kita berusaha, berdoa yang terbaik agar dan hingga artikel kita lolos submit, revie, accepted, hingga published. 
Kesempatan kali ini ingin berbagi cara untuk mengunduh file di Acamedia.edu. Langsung gas saja caranya:
1. Buka file yang henda diunduh, bisa di Academia, Scribd, atau Slideshare.
2. Copy link-mya
3. Buka docdownloader.com 
4. Masukkan link pada kolom yang disediakan
5. Klik Get Link
6. Masukkan captcha
7. Download
8. Selesai
Demikian sobat, semoga bermanfaat

Kamis, 03 September 2020

Blind-Review: Bagaimana Menulisnya ?

Selamat malam sobat, selamat beristirahat sembari berpikir ide artikel apa yang bisa ditulis dan kemana akan ditujukan/ disubmit. 
Seperti tulisan sebelumnya, apapun yang saya tulis di sini bermaksud untuk berbagi apa yang saya pelajari dan apa yang sedang saya lakukan. Semoga bermanfaat. 
Kali ini saya tertarik mengulas tentang Blind Review atau bahasa Indonesianya Review secara Buta (jawa-nya: review karo merem). Hehe, tapi maksudnya bukan itu ya. 
Jadi, proses review sebuah manuskrip (artikel) ada bermacam-macam cara, single blind, double blind, dan sebaginya. Nah apa itu blind review ?
Berikut saya kutip dari Elsevier: 

Double-Blind Peer Review Guidelines

1. Generally, some journal uses double-blind review, which means that both the reviewer and author identities are concealed from the reviewers, and vice versa, throughout the review process
2. To facilitate this, authors need to ensure that their manuscripts are prepared in a way that does not give away their identity.  To help with this preparation please ensure the following when submitting to the journal system.
3. Submit the Title Page containing the Authors details and Blinded Manuscript with no author details as 2 separate files.
3. This should include the title, authors' names and affiliations, and a complete address for the corresponding author including telephone and e-mail address.
4. Besides the obvious need to remove names and affiliations under the title within the manuscript, there are other steps that need to be taken to ensure the manuscript is correctly prepared for double-blind peer review. 
5. Remove references to funding sources
6. Do not include acknowledgments
7. Remove any identifying information, including author names, from file names and ensure document properties are also anonymized.

Nah itu sobat, silakan apakah sudah siap submit journal-nya ?? Semoga berhasil, lolos proses review, accepted, hingga published., aamiin. 

Jumat, 07 Agustus 2020

How to make a great abstract: best practice

Judul tersebut saya dapatkan di sebuah jurnal yang telah memiliki reputasi Sinta 2. Di dalam jurnal tersebut terdapat beberapa tips terkait penulisan artikel jurnal yang bagus dan layak publish. Dalam kesempatan kali ini saya mencoba mempelajari bagiamana menulis Abstrak sebuah jurnal yang bagus, dan secara umum digunakan pada jurnal-jurnal bereputasi. Tulisan ini di buat oleh bpk Ruli Charitas Indra Permana, saya kutip sebagia berikut:

"The abstract is one crucial part of the anatomy of scientific articles. This section is the key to opening the first gate that leads the reader to the overall research results to be disseminated. Also, the editors of a journal will read the abstract first before continuing to read the entire contents of the article. Usually, they read abstracts more seriously, and the rest are only read simply. If the abstract is ok, it will proceed to the next process. Therefore, the authors are expected to pay more attention to writing abstracts seriously for success in the publication of a scientific article. Five relevant keywords must be owned by an abstract. The first part is the background about why and the importance of this research. This section contains 2-3 sentences that begin by describing the ideal conditions related to the topic under study and the requirements of reality in the field related to it. Is there a gap between the perfect situation and reality? Next, in the second part, write the objectives of this study based on the difference (1 sentence). After writing down the research objectives, the third part explains the tools, materials, and methods used by the researcher in gathering the data needed to answer the research objectives (2 sentences). The fourth section discusses the way researchers in processing or analyzing data that has been collected to answer the research question or the proposed problem (1 sentence). Finally, the fifth part explores the results, discussion, and conclusions of this study (2-3 sentences). The keyword in this section is that the researcher must convince the editor regarding the contribution of the results of this study to the broader community by the field of this research. As a whole, the abstract part consists of 9-11 sentences, so that it can meet the requirements for the number of words generally possessed by a journal at intervals of 150-250 words. For your information, each journal has an abstract writing style. For this reason, it is better for an author first to read several articles that have been published in the targeting journal and follow the abstract writing style. In general, these six sections are always mandatory in the anatomy of an abstract in writing scientific articles."

Dilain kesempatan akan saya coba ulas bagaimana menulis abstrak berdasarkan tulisan tersebut, dan hasil pemikiran sendiri. Semoga bermanfaat ya sobat. Sukses selalu.